Bursa Saham Asia Bakal Menguat, Apa Faktor Pendorongnya?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesta penutupan perdagangan terakhir 2009 di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12). Menkeu menyatakan kinerja BEI dengan IHSG ditutup menguat 15,362 poin atau 0,61 persen ke level 2.534,356, yang terbaik di Asia Tenggara. TEMPO/Imam Suka

    Pesta penutupan perdagangan terakhir 2009 di lantai Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12). Menkeu menyatakan kinerja BEI dengan IHSG ditutup menguat 15,362 poin atau 0,61 persen ke level 2.534,356, yang terbaik di Asia Tenggara. TEMPO/Imam Suka

    TEMPO.CO, JakartaBursa saham Asia diperkirakan akan melanjutkan kenaikan pada perdagangan hari Senin ini menyusul dimulainya musim laporan kinerja emiten pekan ini. Dilansir dari Bloomberg, investor memperkirakan prospek pertumbuhan ekonomi dan laba emiten akan cukup kuat untuk mendukung kenaikan harga saham pada bursa Asia.

    Kontrak pada saham Australia dan Hong Kong naik dalam perdagangan terakhir pekan lalu, sementara itu dengan pasar saham di Tokyo ditutup hari ini karena libur nasional. Samsung Electronics Co dan sejumlah peritel serta dan produsen asal Jepang ada di antara perusahaan-perusahaan yang merilis laporan keuangan pekan ini.

    Baca: Dirut BEI: Program Startup Perlu Dikapitalisasi di Bursa Saham

    Dengan aset berisiko yang menikmati awal yang kuat di tahun 2018, laba perusahaan di Asia diperkirakan akan menentukan langkah pergerakan pasar saham kawasan ini. Di Amerika Serikat, Indeks S&P 500 membukukan pekan terbaik sejak Desember 2016 karena investor lebih fokus pada sentimen positif dari kebijakan pemangkasan pajak.

    Investor juga akan mengamati laporan inflasi di AS dan Cina yang dijadwalkan keluar pekan ini. Selain itu investor menunggu kejelasan dari kebijakan di AS yang mungkin memberikan rincian mengenai laju pengetatan kebijakan moneter.

    Data inflasi AS diperkirakan belum menunjukkan laju peningkatan, sehingga memberi sedikit alasan untuk memperdebatkan percepatan pengetatan moneter. Gubernur The Fed wilayah San Francisco John Williams dan New York Bill Dudley termasuk di antara pembuat kebijakan yang dijadwalkan untuk berbicara pekan ini.

    Sementara itu, Korea Utara dan Korea Selatan dijadwalkan untuk mengadakan pembicaraan pada Selasa besok untuk pertama kalinya sejak tahun 2015.

    Data indeks harga produsen dan konsumen Cina dijadwalkan dirilis pada hari Rabu, sementara data jumlah uang beredar diperkirakan dalam dirilis beberapa hari mendatang. Sejumlah hal tersebut diperkirakan bakal turut mempengaruhi performa bursa saham Asia pada hari ini.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.