Mendulang Rezeki dari Pasir Gunung Agung

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga bantaran Sungai Unda, Klungkung menambang pasir dari lahar Gunung Agung, 5 Desember 2017. BRAM SETIAWAN

    Warga bantaran Sungai Unda, Klungkung menambang pasir dari lahar Gunung Agung, 5 Desember 2017. BRAM SETIAWAN

    TEMPO.CO, Klungkung - Lahar Gunung Agung yang mengalir ke Sungai Unda, Klungkung membawa keuntungan tersendiri bagi warga yang tinggal di bantaran sungai. Indarti, 39 tahun, warga Lingkungan Lebah, Kelurahan Semarapura Kangin, Klungkung tampak bersemangat menambang pasir yang berasar dari lahar dingin gunung tersebut. "Ini buat tambahan penghasilan," katanya, Selasa, 5 Desember 2017.

    Indarti yang sehari-harinya berjualan di warung mengaku bisa meraup penghasilan Rp 300 ribu per hari dari menambang pasir. Awalnya Indarti menambang pasir dari erupsi Gunung Agung karena melihat aktivitas warga serupa sebelumnya.

    Baca: Abu Gunung Agung Berbahaya, Jokowi Minta Maskapai Hati-hati

    Menambang pasir baru dilakoni Indarti selama 4 hari. "Cari pasir kerja sampingan saja, sehari bisa kumpulkan untuk satu (mobil) pick up. Bisa dapat uang Rp 150 ribu," tutur ibu yang memiliki 3 anak itu. Ia menyebutkan menambang pasir lebih mudah untuk mendapatkan keuntungan. "Karena tidak pakai modal. Ini rezeki dari Gunung Agung," ujarnya.

    Meski begitu, Indarti menyatakan menambang pasir merupakan pekerjaan yang melelahkan. Ia mulai menambang pasir pukul 10.00 WITA. Kemudian, sore sekitar pukul 15.00 ia melanjutkan lagi menambang pasir di sela waktu berjualan di warung.

    Dari pantauan Tempo, terlihat warga laki-laki dan perempuan turun ke aliran Sungai Unda. Ketinggian air mencapai 20 sentimeter merendam kaki. Warga yang menyerok pasir pun harus mengeluarkan banyak tenaga karena sekop yang digunakan diempas tekanan arus air sungai. Senda gurau serta obrolan antar warga membuat aktivitas menambang pasir yang melelahkan itu terasa menyenangkan.

    Saat itu terlihat Ni Nengah Suartini menghela nafas sambil mengelap air keringat di wajahnya. Tangannya yang menonjolkan urat, erat menggenggam sekop sambil menyerok pasir. Perempuan berusia 53 tahun itu terkadang bekerja sebagai buruh angkut pasir.

    Dalam sepekan, Suartini biasa mendapatkan pekerjaan itu tiga kali. "Tidak menentu tergantung pesanan kalau ada proyek. Penghasilan per hari mengangkut pasir Rp 50 ribu," katanya. Lahar Gunung Agung yang membawa material berupa pasir menjadi berkah bagi dirinya.

    Suartini sudah tiga hari mengikuti warga yang lain menambang pasir. "Capek tapi kalau ingat duit hasilnya, terasa semangat," ujarnya sambil tertawa. Suartini biasanya menambang pasir mulai pukul 14.00 sampai 16.00. Penghasilan Suartini per hari dari menambang pasir membuat dirinya mendapatkan tambahan penghasilan Rp 75 ribu.

    Ada lagi I Nengah Karta, 52 tahun, yang mondar-mandir dari tengah sungai ke tepian untuk menyerok pasir. Sudah enam hari pendapatannya sangat meningkat dari menambang pasir. Sebelum Gunung Agung erupsi, Karta sehari-hari menambang pasir sebagai penghasilan utama. "Sebelum erupsi bisa dapat Rp 100 ribu dari menjual pasir susah sekali," katanya.

    Namun sudah sepekan penghasilannya meningkat. Sehari dia bisa menambang pasir sampai terangkut 2 mobil pick up. Harga pasir yang terjual satu mobil pick up, ujar dia, sejumlah Rp 150 ribu. Menurut dia banyak pembeli yang tertarik mencari pasir dari erupsi Gunung Agung. "Kualitas dianggap lebih bagus," ucapnya.

    Karta mulai menambang pasir sejak pagi pukul 06.00 sampai 16.00. "Terkadang malam saya lanjut lagi cari pasir," tuturnya. Ia menjelaskan bila pasir bisa tertampung dalam satu truk harganya, Rp 1,1 juta. Menurut dia penambangan harus sering dilakukan agar pasir tidak menumpuk di sungai. "Kalau tidak (ditambang), air sungai bisa naik," katanya.

    Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho pasir dari erupsi gunung api yang dibawa lahar dingin memiliki kualitas kelas 1. "Paling mahal harganya dibandingkan yang berasal dari endapan sedimen pasir berumur tua," ujarnya.

    Sutopo mengatakan sebagian besar lahar hujan membawa material pasir. Pasir adalah produk dari letusan gunung api. "Saat keluar dari kawah dan jatuh di lereng gunung akan dihanyutkan oleh aliran permukaan dari hujan. Mengalir melalui sungai atau jurang yang ada di gunung," katanya.

    Fenomena menambang pasir dari lahar hujan, kata Sutopo, banyak terjadi di beberapa kawasan gunung api. Selain Gunung Agung, pasir dari lahar yang biasa dimanfaatkan warga sekitar adalah Gunung Merapi, Gunung Galunggung, dan Gunung Kelud.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Curah Hujan Ekstrem dan Sungai Meluap, Jakarta Banjir Lagi

    Menurut BPBD DKI Jakarta, curah hujan ekstrem kembali membuat Jakarta banjir pada 23 Februari 2020.