Airlangga Hartarto: Industri Mainan Serap Banyak Tenaga Kerja

Reporter:
Editor:

Martha Warta

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Koleksi 50 mainan edukatif ELC untuk musim libur akhir tahun 2017. TEMPO/Nia Pratiwi

    Koleksi 50 mainan edukatif ELC untuk musim libur akhir tahun 2017. TEMPO/Nia Pratiwi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan pertumbuhan industri mainan memberikan pengaruh positif bagi iklim manufaktur nasional. “Iklim industri ini cocok untuk meningkatkan jumlah tenaga kerja,” kata Airlangga saat ditemui di pabrik PT Mattel Indonesia, Cikarang, Jawa Barat, pada Senin, 4 Desember 2017.

    Airlangga mengatakan mainan memiliki banyak bahan dasar pembentuk yang berbeda. Hal itu dapat meningkatkan produktivitas industri kecil dan menengah (IKM). “Untuk mainan berbahan dasar kayu, masih banyak menggandeng IKM,” tuturnya.

    Selain itu, ia menyebut PT Mattel Indonesia sebagai leading manufacturing mainan dunia, dengan basis produksi terbesar ada di Indonesia. “Telah beroperasi 25 tahun, industri ini mampu menyerap 10 ribu tenaga kerja,” ujar Airlangga.

    Menurut Airlangga, PT Mattel Indonesia sudah banyak melakukan inovasi potensial dan mengembangkan sumber daya manusia di Indonesia dalam kurun waktu tersebut. Ia berujar, pabrik itu tidak hanya memproduksi mainan Barbie atau Hotwheels, tapi juga memuat kemampuan inovasi dan engineering yang andal. “Sejalan dengan pengembangan industri 4.0.”

    Baca: Menperin Airlangga Dorong Mattel Indonesia Produksi Barbie Batik

    Ia mengatakan engineer lokal sudah bisa membuat mesin-mesin robotik presisi untuk produksi boneka Barbie di pabrik tersebut. “Kekuatan ini berbasis pada talenta lokal.”

    Dengan berkembangnya industri 4.0 atau Internet of Things (IoT) pada industri mainan, kata Airlangga, hal itu tidak akan menghilangkan tenaga kerja, tapi menciptakan tenaga kerja baru. "Sehingga bukan menggantikan mesin lama, tapi ekspansi." Ia juga menetapkan proses akhir industri tetap menggunakan sumber daya manusia.

    Angka penyerapan tenaga kerja di sektor industri mainan pun mencapai 23.116 orang, dengan nilai investasi pada 2016 mencapai US$ 14,76 juta.

    Adapun ekspor komoditas mainan sampai September 2017 mencapai US$ 228,39 juta atau naik sebesar 8,97 persen dibanding periode yang sama tahun 2016 (year-on-year) sebesar US$ 209,59 juta. Sampai triwulan ketiga 2017, nilai investasi telah mencapai US$ 9,52 juta.

    Airlangga berujar, aktivitas industri yang konsisten membawa dampak yang luas bagi perekonomian nasional dan penyerapan tenaga kerja. Dampak tersebut antara lain peningkatan pada nilai tambah bahan baku dalam negeri, penyerapan tenaga kerja lokal, dan penerimaan devisa dari ekspor.

    Partisipasi Mattel Indonesia dalam program pendidikan vokasi Link and Match juga membawa dampak positif membentuk tenaga kerja yang kompeten sesuai dengan kebutuhan industri, khususnya produksi mainan yang memiliki keunikan dan membutuhkan keahlian khusus.

    JENNY WIRAHADI | MWS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.