Trump Puji Indonesia Berhasil Padukan Pertumbuhan dan Pemerataan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden AS Donald Trump dan istrinya Melania Trump berpose saat mengunjungi Istana Forbidden City, Cina, 8 November 2017. AP Photo/Andrew Harnik

    Presiden AS Donald Trump dan istrinya Melania Trump berpose saat mengunjungi Istana Forbidden City, Cina, 8 November 2017. AP Photo/Andrew Harnik

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memuji keberhasilan Indonesia dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi. "Kita berhasil mengombinasikan antara pertumbuhan dengan equity (pemerataan), imbauan Presiden Jokowi di ABAC misalnya internasionalisasi UMKM, kemudian akses kepada modal itu juga adalah yang disampaikan pesan kepada para anggota APEC," kata Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir di Da Nang, Vietnam, Jumat, 10 November 2017.

    Presiden menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (KTT APEC) ke-25 berlangsung di Da Nang, Vietnam pada 10-11 November. Agenda pertama Presiden adalah menghadiri APEC Business Advisory Council (ABAC) dengan para pemimpin anggota APEC.

    Baca juga: Di APEC, Jokowi Bicara Keuntungan dan Ancaman Ekonomi Digital

    Pada hari Jumat, 10 November 2017, Presiden AS Donald Trump memuji Indonesia saat berpidato dalam pembukaan APEC menyatakan bahwa Indonesia selama beberapa dekade telah membangun institusi domestik dan demokrasi untuk mengelola hingga lebih dari 13.000 pulau.

    Menurut Trump, sejak 1990-an, rakyat Indonesia telah mengeluarkan diri mereka dari kemiskinan untuk menjadi negara dengan pertumbuhan pesat di G20, apalagi Indonesia saat ini adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

    "Kita ingin agar tampil sebagai negara yang bisa mengombinasikan antara pertumbuhan dan pemerataan ekonomi dan bertumpu pada UMKM, ini yang coba ditampilkan dalam pesan presiden karena itu sejalan dengan inklusivitas pembiayaan yang menunjang pertumbuhan kita," kata Wakil Menlu Fachir.

    Inklusivitas ekonomi itulah yang menurut Fachir juga sesuai dengan tema APEC 2017 yang dibuat oleh Vietnam yaitu "Creating New Dynamism and Fostering a Shared Future".

    "Tema sekarang ini kan Vietnam ingin menciptakan shared future (masa depan bersama), Presiden Jokowi menegaskan perlunya inklusivitas karena bisa jadi teknlogi informasi pun bisa menciptakan gap dan kita dinilai berhasil menyeimbangkan dan mengkombinasikan antara pertumbuhan dan equity, antara lain misalnya melalui social safety net'(BPJS), pembagian KIP (Kartu Indonesia Pintar), KIS (Kartu Indonesia Sehat) itu dinilai mengombinaksikan pertumbuhan dan distribusi kemakmuran serta mengurangi gap itu," kata Fachir.

    Sebanyak 21 pemimpin anggota APEC yang hadir antara lain Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Presiden Cina Xi Jinping, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Presiden Meksiko Enrique  Nieto.

    Tema APEC 2017 adalah "Menciptakan Dinamika Baru, Membina Masa Depan Bersama" fokus membahas beberapa masalah, antara lain perekonomian berkesinambungan, integrasi regional, penguatan daya saing usaha mikro kecil dan menengah, perubahan iklim dana pertanian.

    APEC yang didirikan pada 1989, pada tahun ini memasuki fase finalisasi "Bogor Goals" mengenai liberalisasi perdagangan dan investasi pada tahun 2020, ada hambatan yang muncul dalam proses globalisasi dan integrasi ekonomi.

    Ada 21 entitas ekonomi yang menjadi anggota APEC yaitu Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, Cina, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua Nugini, Peru, Filipina, Rusia, Singapura, Taipei, Thailand, Amerika Serikat dan Vietnam.

    Anggota-anggota APEC mewakili 39 persen populasi dunia, menyumbang 57 persen dari PDB dan 49 persen perdagangan global.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Sandiaga Uno Soal Tenaga Kerja Asing Tak Sebutkan Angka

    Sandiaga Uno tak menyebutkan jumlah Tenaga Kerja Asing dalam debat cawapres pada 17 Maret 2019. Begini rinciannya menurut Kementerian Ketenagakerjaan.