Kementerian Lingkungan Sebut Moratorium Tambang Emas Belum Perlu

Reporter:
Editor:

Ali Akhmad Noor Hidayat

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana hutan di bekas lahan tambang milik Newmont Minahasa Raya yang menjadi hutan reklamasi di Desa Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, 1 Desember 2015. Tambang emas Newmont Minahasa Raya telah mereklamasi 223 hektar dari total luas tambang 44

    Suasana hutan di bekas lahan tambang milik Newmont Minahasa Raya yang menjadi hutan reklamasi di Desa Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, 1 Desember 2015. Tambang emas Newmont Minahasa Raya telah mereklamasi 223 hektar dari total luas tambang 44

    TEMPO,CO. Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan belum berencana melakukan moratorium terhadap penambangan emas di Indonesia meski terindikasi merusak lingkungan karena menggunakan merkuri.

    Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengatakan pemerintah belum berencana melakukan moratorium terhadap tambang emas yang menggunakan merkuri.

    "Sebab, dari BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) ada alternatif selain menggunakan merkuri untuk mengolah emas, seperti sianida, tiosulfat, dan thiourea," katanya di Jakarta, Senin, 9 Oktober 2017. Menurutnya, tambang emas di Indonesia masih dibutuhkan asalkan tidak menggunakan merkuri dalam mengolahnya.

    Simak: Harga Emas Kembali Menguat, Ini Pemicunya

    Sejauh ini, Siti melihat ratifikasi Konvensi Minamata merupakan langkah penting. Pemerintah, kata dia, telah meratifikasi Konvensi Minamata melalui Undang-undang Nomor 17 Tahun 2017.

    Perjanjian tentang merkuri tersebut merupakan perjanjian yang pertama untuk isu bahan kimia yang dihasilkan Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa dalam 10 tahun terakhir.

    "Sambil berjalan, kami lihat dulu untuk uji coba BPPT di Poboyo (untuk pengolahan emas tanpa menggunakan merkuri)," ujarnya.

    Selain itu, semua lini di lembaga terkait di pemerintahan sudah turun untuk mengatasi penggunaan merkuri dan penambangan bahan merkuri, yakni cinnabar, di Indonesia. "Sebab, merkuri ini akan menjadi racun jika meresap ke lingkungan kita dan sangat membahayakan," ucapnya.

    Masyarakat mempunyai peluang lain untuk mengolah emas menggunakan sianida. Menurut Siti, sianida yang digunakan untuk mengolah emas akan tereduksi lingkungan hanya dalam waktu beberapa jam.

    "Presiden juga sudah memerintahkan Kementerian Kesehatan turun membantu dari sisi kesehatan dalam penanganan merkuri," ucapnya.

    Koordinator Jaringan Advokasi Tambang Nasional Merah Johansyah Islamil mengatakan pemerintah harus segera memoratorium tambang emas baik milik masyarakat ataupun korporasi. Sebab, saat ini Indonesia sudah darurat merkuri.

    "Baik menggunakan sianida maupun merkuri, dampaknya sama-sama mencemari lingkungan," tuturnya. "Jadi penambangan emas haru segera dimoratorium."

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban dan Pelaku Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

    Kepolisian menyebut enam orang menjadi korban ledakan bom bunuh diri di Polrestabes Medan. Pelaku pengeboman mengenakan atribut ojek online.