Dibanding Negara G-20, Sri Mulyani: Utang RI Tak Mengkhawatirkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan pencapaian realisasi dan evaluasi program pengampunan pajak periode pertama di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Periode I program pengampunan pajak harta terdeklarasi mencapai Rp3.826,81 triliun. ANTARA/Puspa Perwitasari

    Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan pencapaian realisasi dan evaluasi program pengampunan pajak periode pertama di Kementerian Keuangan, Jakarta, 14 Oktober 2016. Periode I program pengampunan pajak harta terdeklarasi mencapai Rp3.826,81 triliun. ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan utang Indonesia tidak dalam kondisi mengkhawatirkan. Dia menjabarkan sejumlah indikator pembanding dengan negara G-20.

    Indikator pertama adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia yang tinggi dengan defisit kecil. Berdasarkan data April 2017, pertumbuhan PDB Indonesia mencapai 5,6 persen dengan defisit fiskal 1,6 persen. "Size Indonesia lebih kecil dibandingkan dengan negara G-20 lain," katanya dalam rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat di Jakarta, Senin, 4 September 2017.

    Simak: Sri Mulyani: Tak Perlu Takut Utang

    PDB India tercatat tumbuh tinggi, yaitu 7,4 persen, tapi defisitnya mencapai 3,5 persen. Amerika bahkan mengalami defisit 6,7 persen dengan pertumbuhan PDB 1,3 persen.

    Rasio utang Indonesia terhadap PDB pun terhitung kecil, yaitu 28 persen. Sedangkan negara tetangga, seperti Filipina dan Thailand, masing-masing 34 persen dan 42 persen. Rasio utang Amerika terhadap PDB tercatat mencapai 107 persen dan Jepang 239 persen.

    Rasio utang per kapita pun masih aman. PDB per kapita Indonesia US$ 3.604 dan dibebani utang per kapita US$ 1.004. Indonesia berada di peringkat kedua setelah Filipina dengan utang per kapita US$ 984 dan PDB per kapita US$ 2.924.

    Dilihat dari rasio biaya pinjaman, Indonesia masih lebih kecil dibanding negara sejenis. "Rata-rata biaya pinjaman Indonesia dengan rating BBB sekitar 5,0 hingga 5,8 persen," ujarnya. Sedangkan Brazil harus membayar 15 persen. Padahal negara tersebut memiliki rating BB dan PDB per kapita US$ 8.727, lebih tinggi dari Indonesia.

    Sri Mulyani mengatakan waktu jatuh tempo pinjaman pemerintah pun terkendali. Rata-rata tertimbang waktu jatuh tempo utang terus menurun sejak 2014, dari sebelumnya 9,7 tahun menjadi 8,9 tahun per Juni 2017.

    Hingga akhir tahun ini, pemerintah menargetkan waktu jatuh tempo utang menjadi 8,6 tahun. "Kami memang menargetkan menjadi 7-8 tahun," ucapnya. Dia menuturkan semakin panjang waktu jatuh tempo biasanya diikuti dengan biaya utang yang semakin tinggi.

    Di Italia, rata-rata tertimbang waktu jatuh tempo utang mencapai 6,9 tahun per Juni 2017. Adapun Spanyol menargetkan 11,5 tahun pada 2017.

    Sri Mulyani juga mencatat penurunan tingkat imbal hasil Surat Utang Negara (SUN). Tingkat imbal hasil SPN tenor tiga bulan turun dari 6,01 persen pada Desember 2016 menjadi 5,33 persen pada Agustus 2017. Sedangkan tingkat imbal hasil SUN tenor 10 tahun turun dari 7,97 persen pada Desember tahun lalu menjadi 6,69 persen pada Agustus 2017.

    VINDRY FLORENTIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pemerintah Pangkas 5 Hari Cuti Bersama 2021 dari 7 Hari, Tersisa 2 Hari

    Pemerintah menyisakan 2 hari cuti bersama 2021 demi menekan lonjakan kasus Covid-19 yang biasa terjadi usai libur panjang.