Gubernur BI Sambut Baik Asumsi Ekonomi 2018  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan  Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Juli 2017. Dalam kunjungan ini juga digelar dialog dengan pelaku pasar modal. ANTARA/Wahyu Putro A

    Presiden Joko Widodo (kiri) berdiskusi dengan Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo (kiri) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 4 Juli 2017. Dalam kunjungan ini juga digelar dialog dengan pelaku pasar modal. ANTARA/Wahyu Putro A

    TEMPO.COJakarta - Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengatakan pihaknya menyambut baik rancangan inflasi pada RAPBN 2018 sebesar 3,5 persen. Ia menyebut hal itu merupakan komitmen pemerintah dan BI menuju era inflasi rendah dan stabil.

    “Saya juga melihat asumsi yang lain itu baik dan betul-betul mengarah pada postur yang sehat," kata Agus saat ditemui di Kompleks Parlemen DPR, Jakarta, Rabu, 16 Agustus 2017.

    Baca: Asumsi Makro 2018 Disetujui, Ini Target Pertumbuhan Ekonomi

    Agus menuturkan komitmen menuju defisit fiskal di kisaran 2,19 persen pada RAPBN 2018 menunjukkan defisit anggaran akan lebih rendah. Alasannya, defisit di 2017 sebesar 2,67 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

    Dalam RAPBN 2018, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, pendapatan negara Rp 1.878,4 triliun, dan belanja negara Rp 2.204,4 triliun.

    Simak: Ekonomi 2018, DPR Sepakat Asumsi Pertumbuhan 5,2-5,6 Persen

    Selain itu, inflasi diperkirakan tetap dapat terjaga di tingkat 3,5 persen. Defisit anggaran terhadap PDB diperkirakan akan berada di angka 2,19 persen.

    Menurut Agus, proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2017 sebesar 5,4 persen bisa dipahami sebagai upaya pemerintah mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan inklusif. "Di BI kami perkirakan 5,3 persen (pertumbuhan ekonomi)."

    Agus mengungkapkan rasio utang pemerintah juga dilihat tetap akan dijaga di bawah 30 persen dari PDB. "Kami sambut baik. Asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika di Rp 13.500 pun bisa kami terima," ujarnya.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.