Luncurkan ETP, OJK Harapkan Transaksi Obligasi Naik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan, dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistyo membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 6 April 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    Kepala Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah, Deputi Komisioner Pengawasan Pasar Modal II OJK Fakhri Hilmi, Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan, dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia Tito Sulistyo membuka perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 6 April 2017. Tempo/Angelina Anjar Sawitri

    TEMPO.CO, Jakarta - Deputi Komisioner Pengawas Pasar Modal II Otoritas Jasa Keuangan Fakhri Hilmi mengatakan, persoalan utama pasar surat utang adalah likuiditas dan pembentukan harga. Karena itu, electronic trading platform (ETP) diluncurkan untuk membantu pembentukan harga. Dengan begitu, likuiditas juga terbantu.

    "Secara transaksi memang jauh sekali. Obligasi pemerintah paling 600-700 kali sehari. Bandingkan dengan saham yang 330 ribu. Likuiditasnya jauh sekali. PR kita masih banyak," kata Fakhri dalam peluncuran ETP di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis, 6 April 2017.

    Baca: OJK Segera Terbitkan 15 Kebijakan Pasar Modal

    Fakhri optimistis, dengan adanya ETP, likuiditas pasar obligasi akan meningkat. Saat ini, ETP memang baru bisa memperdagangkan tiga seri Obligasi Ritel Negara atau ORI. "Mudah-mudahan ke depan yang bisa ditransaksikan bisa ditambah. Suplai dari pemerintah juga semakin banyak," tuturnya.

    Baca: KPEI Ditunjuk Jadi Penyelenggara Kliring ORI di Luar Bursa

    Pemerintah resmi meluncurkan electronic trading partner (ETP), Kamis, 6 April 2017, di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Pada tahap awal, hanya Obligasi Negara Ritel atau ORI yang dapat diperdagangkan melalui ETP, yakni ORI011, ORI012, dan ORI013. Volume ketiga surat utang tersebut mencapai Rp 68,3 triliun.

    Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kementerian Keuangan Robert Pakpahan berujar, dengan adanya ETP, frekuensi perdagangan ORI di pasar sekunder dapat meningkat. Melalui ETP, seluruh informasi terkait perdagangan obligasi juga bisa lebih cepat.

    Robert berujar, pada tahap awal ini, pemerintah tidak ingin terburu-buru mewajibkan seluruh obligasi dapat diperdagangkan melalui ETP. Namun ke depan, tak tertutup kemungkinan diimplementasikannya hal tersebut. "Kami sudah benchmarking dengan banyak negara," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.