Atur Sertifikat Deposito, BI Bidik Dana Pensiun dan Asuransi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Ilustrasi mata uang rupiah. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Bank Indonesia mencatat kepemilikan sertifikat deposito di pasar uang masih didominasi oleh perbankan, yakni sebesar 92 persen. Sementara itu, komposisi kepemilikan sertifikat deposito oleh dana pensiun hanya sebesar 6 persen dan lembaga lainnya hanya mencapai 2 persen.

    "Kenapa kurang minat? Karena belum ada aturannya. Mereka khawatir dengan kepastian hukumnya," kata Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Nanang Hendarsyah dalam konferensi persnya di Kompleks BI, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Maret 2017.

    Untuk memberikan kepastian hukum terkait jual-beli sertifikat deposito, BI pun menerbitkan Peraturan BI Nomor 19 Tahun 2017 tentang Transaksi Sertifikat Deposito di Pasar Uang. Nanang berharap, dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, perdagangan sertifikat deposito meningkat.

    Baca: BNI Terbitkan Sertifikat Deposito Rp 2,7 Triliun untuk Ekspansi

    Menurut Nanang, dengan masih rendahnya komposisi kepemilikan sertifikat deposito oleh dana pensiun dan perusahaan asuransi, kedua lembaga tersebut merupakan pembeli potensial sertifikat deposito. "Mereka memiliki alokasi investasi yang cukup tinggi pada instrumen tabungan dan deposito."

    Nanang berujar, sertifikat deposito merupakan instrumen yang dapat menjadi alternatif bagi dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk berinveasi. "Kami akan terus sosialisasi ke dana pensiun dan perusahaan asuransi. Ini hanya masalah bagaimana pelaku menunggu kepastian regulasi," katanya.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.