IHSG Rawan Koreksi, Imbas Sentimen Naiknya Suku Bunga AS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyandang disabilitas mengamati harga saham lewat ponsel dalam Sekolah Pasar Modal bagi Difabel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Januari 2017. Dalam sekolah tersebut para peserta dapat langsung mencoba membeli saham melalui aplikasi di telepon pintar serta komputer. Tempo/Tony Hartawan

    Penyandang disabilitas mengamati harga saham lewat ponsel dalam Sekolah Pasar Modal bagi Difabel di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, 18 Januari 2017. Dalam sekolah tersebut para peserta dapat langsung mencoba membeli saham melalui aplikasi di telepon pintar serta komputer. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan atau IHSG pada perdagangan hari ini, Kamis, 9 Maret 2017, diperkirakan cenderung koreksi. Analis saham dari First Asia Capital, David Sutyanto, mengatakan pelemahan tersebut menyusul meningkatnya prospek kenaikan bunga di Amerika Serikat dan koreksi di harga komoditas energi dan logam.

    "Pasar mengantisipasi rencana kenaikan bunga FFR dalam pertemuan FOMC pekan depan, IHSG diperkirakan bergerak di 5.370 hingga 5.420 cenderung koreksi," ujar David dalam pesan tertulis, Kamis, 9 Maret 2017.

    Baca: IHSG Diprediksi Bergerak Naik ke 5.420, Rupiah Stabil

    Pada perdagangan saham kemarin, transaksi kembali didominasi tekanan jual dalam rentang konsolidasi, terimbas sentimen negatif kawasan Asia. IHSG kemarin ditutup koreksi 8,85 poin (0,16 persen) di 5.393,76 dengan support sederhana bertahan di 5.390 dan resisten di 5.420.

    Menurut David, pasar terlihat kurang bergairah. Kekhawatiran kenaikan bunga FFR pada pertemuan Maret ini diperburuk dengan data perdagangan Cina pada Februari lalu yang di bawah perkiraan.

    Baca: Dibayangi Dolar Amerika, IHSG Berpeluang Menguat Terbatas

    Secara tak terduga, neraca perdagangan Cina pada Februari lalu mengalami defisit US$ 9,15 miliar dibanding perkiraan sebelumnya surplus US$ 27,8 miliar dan bulan sebelumnya surplus US$ 51,4 miliar. Ekspor Cina Februari lalu turun 1,3 persen (yoy) di bawah perkiraan naik 12,3 persen dan bulan sebelumnya naik 7,9 persen. Sedangkan impor Cina Februari lalu melonjak 38,1 persen (yoy) di atas perkiraan naik 20 persen dan bulan sebelumnya 16,7 persen. Memburuknya kinerja perdagangan Cina pada Februari lalu telah menekan pasar saham Asia kemarin.

    "Memburuknya data perdagangan Cina (pada) Februari lalu turut menekan harga sejumlah komoditas logam dan berimbas pada tekanan di harga saham sektoral berbasis komoditas tambang logam," ucap David.

    Sementara Wall Street tadi malam kembali ditutup di teritori negatif menyusul anjloknya harga minyak mentah. Indeks DJIA dan S&P masing-masing koreksi 0,33 persen dan 0,23 persen di 20.855,73 dan 2.362,98. Harga minyak mentah di Amerika tadi malam anjlok 5,5 persen di US$ 50,19 per barel menyusul data Energy Information Administration (EIA). Cadangan minyak mentah Amerika pekan lalu melonjak 8,2 juta barel di atas perkiraan 1,1 juta barel.

    Selain itu, kemarin, pasar mengantisipasi rencana kenaikan bunga FFR dalam pertemuan FOMC pekan depan setelah data tenaga kerja tadi malam merilis penambahan angkatan kerja hingga 298 ribu pada Februari lalu di atas perkiraan 184 ribu. "Data tenaga kerja ini memicu keyakinan pasar akan kenaikan bunga The Fed atau FFR bulan ini," kata David.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.