Impor Minyak Tiga Negara Asia Ini Naik, Kecuali Cina  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja mengawasi pengoperasian mesin di Kilang Minyak PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 11 November 2015. Perusahaan ini kembali dioperasikan PT Pertamina agar keberadaan TPPI dapat mengurangi 20 persen impor. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    Pekerja mengawasi pengoperasian mesin di Kilang Minyak PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) di Tuban, Jawa Timur, 11 November 2015. Perusahaan ini kembali dioperasikan PT Pertamina agar keberadaan TPPI dapat mengurangi 20 persen impor. ANTARA/Widodo S. Jusuf

    TEMPO.CO, Jakarta - Jumlah impor minyak mentah dari Iran oleh empat pembeli utama di Asia naik tajam pada bulan lalu dibandingkan setahun sebelumnya. Seperti dilansir Reuters, Selasa, 28 Februari 2017, empat negara pengimpor utama untuk minyak mentah Iran, yaitu Cina, India, Korea Selatan, dan Jepang, mengimpor 1,64 juta barel per hari (bph) pada Januari.

    Jumlah tersebut naik 67,6 persen dibandingkan dengan setahun sebelumnya ketika sanksi Barat terhadap Teheran baru dicabut. Meski demikian, menurut data International Energy Agency (IEA), jumlah volume tersebut adalah yang terendah dalam enam bulan serta penurunan bulan ketiga berturut-turut dari puncaknya 1,99 juta bph yang dibukukan pada Oktober.

    Seperti diketahui, Iran telah dikecualikan dari kesepakatan OPEC untuk mengurangi produksi sebesar 1,2 juta bph mulai 1 Januari, seiring upayanya kembali meraih pangsa pasar pasca-pencabutan sanksi Barat atas program nuklirnya.

    Baca: Sentimen Beragam, Harga Minyak Mentah Terdongkrak

    Menurut para sumber, Iran telah menawarkan potongan harga kepada para pengimpor yang meningkatkan pembeliannya. Kementerian perdagangan Jepang kemarin merilis data resmi yang menunjukkan kenaikan impor sebesar 7,9 persen dibandingkan setahun sebelumnya menjadi 209.319 bph pada Januari.

    Baca: 10 Negara Belajar Tata Kelola Minyak di Bojonegoro

    Impor India bahkan naik lebih dari tiga kali lipat menjadi 554.600 bph, mengungguli Cina untuk pertama kalinya sejak November. Korea Selatan turut mengalahkan Cina dengan kenaikan jumlah impor lebih dari dua kali lipat menjadi 478.032 bph, sehingga mengusungnya sebagai pembeli terbesar kedua di Asia setelah India.

    Di saat ketiga negara di atas mencatatkan kenaikan, jumlah impor Cina justru turun 1,3 persen menjadi 402.750 bph pada Januari dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.