Matahari Kembar di Pertamina? Ini Cerita Ahmad Bambang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang menghadiri open house yang diselenggarakan Menteri BUMN Rini Soemarno di Kuningan, 6 Juli 2016. Tempo/Vindry Florentin

    Direktur Pemasaran PT Pertamina Ahmad Bambang menghadiri open house yang diselenggarakan Menteri BUMN Rini Soemarno di Kuningan, 6 Juli 2016. Tempo/Vindry Florentin

    TEMPO.CO, Jakarta – Menteri BUMN Rini Marini Soemarno mencopot Direktur Utama Pertamina Dwi Sutjipto dan Wakil Direktur Utama Ahmad Bambang dari posisinya. Dua hari sebelum dicopot, 1 Februari 2017, Ahmad Bambang menjawab pertanyaan Tempo tentang berbagai isu terkait dengan posisinya sebagai orang nomor 2 di Pertamina.

    Bambang mengklarifikasi pernyataan adanya matahari kembar karena posisi Direktur Utama dan Wakil Direktur Utama sama-sama kuat. Menurut Bambang, posisi Wakil Direktur Utama berada di bawah Direktur Utama. “Bukan kesatuan. Wadirut bertanggung jawab dan harus lapor kepada dirut. Kalau satu kotak, posisinya sama, tinggal bagi-bagi kerja,” kata dia kepada Tempo, Rabu 1 Februari 2017.

    Baca: Detik-detik Pencopotan Direktur Pertamina

    Karena duduk sebagai wakil direktur, Bambang mengaku tugasnya sebagai kepala operasi atas kegiatan hilir, pemasaran, dan pengolahan serta energi terbarukan. Tujuannya, agar kegiatan usaha pengolahan dan pemasaran terintegrasi. “Sedangkan direktorat lainnya langsung di bawah dirut,” ujarnya.

    Dia menampik anggapan bahwa wakil direktur utama mempunyai kewenangan yang sangat besar seperti penunjukan pelaksana tugas jika dirut dan wakil dirut berhalangan. Aturannya menyebutkan, kata Bambang, jika direktur utama tidak ada, wakil direktur utama yang menjalankan tugas direktur utama.

    Baca: Copot Direktur Pertamina, Rini Konsultasi ke Presiden

    “Jika dirut tidak ada, wadirut yang akan menunjuk pelaksana tugas. Itu pengertiannya, jika dirut dan wadirut gak ada, menunjuk pelaksana tugas wadirut karena paling belakang berhalangan,” ucapnya. “Tapi, kalau hanya wadirut tidak ada dan dirut ada, dirut yang menunjuk pengganti. Direksi dan komisaris memahami hal ini.”

    Rini mengaku sedih dengan keputusan pemberhentian Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto dan wakilnya, Ahmad Bambang. Sebelum keputusan pemberhentian keduanya diteken, Rini sengaja tidak berkomunikasi dengan Dwi dan Ahmad. “Karena saya memang mengharapkan Dewan Komisaris sudah melakukan fungsinya secara GCG (Good Corporate Governance),” tuturnya.

    Baca: Dirut Pertamina & Wakilnya Dicopot, Menteri Rini: Saya Sedih

    Dwi dan Ahmad diberhentikan karena masalah kepemimpinan. Komisaris Utama Pertamina Tanri Abeng mengatakan masalah kepemimpinan yang dimaksud adalah tidak solidnya kedua pemimpin.

    Salah satu kasus yang menjadi perhatian Dewan Komisaris adalah lambatnya penempatan tenaga strategis seperti Presiden Direktur PT Pertagas. “Mungkin ada tarik menarik sehingga itu tidak berjalan sesuai dengan waktu yang diharapkan,” kata Tanri.

    Baca: Presiden Diminta Evaluasi Direksi dan Komisaris Pertamina

    Rini menambahkan, keputusan pemberhentian diambil berdasarkan usul Dewan Komisaris. Menurut dia, Dewan Komisaris menilai masalah kepemimpinan keduanya sudah akut. Sebelum usulan diajukan, Rini mengatakan Dewan Komisaris telah mengawasi dan mengklarifikasi banyak pihak, termasuk Dwi dan Ahmad.

    Saat keduanya dimintai klarifikasi, kata Rini, Dwi dan Ahmad sama-sama mengaku tidak ada masalah. “Yang satu kalau ditanya, menjawab enggak ada apa-apa. Satu lagi juga begitu. Tapi ternyata di dalam orang ngomong ada apa-apa,” katanya.

    Menurut Rini, masalah kepribadian keduanya merupakan sumber masalah, bukan struktur organisasi baru Pertamina. Rini yakin pemimpin yang baik bisa menjalankan tugasnya dalam struktur apa pun. “Di perbankan juga ada wakil direktur tapi enggak ada masalah,” ucapnya.

    VINDRY FLORENTIN | ALI NY | BUDI SETYARSO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.