Adhi Karya Jual Saham Lamong Energi Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/Puspa Perwitasari

    Ilustrasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ANTARA/Puspa Perwitasari

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan konstruksi milik negara, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), menjual sahamnya di PT Lamong Energi Indonesia (LEGI) ke PT Terminal Teluk Lamong (TTL). Sekretaris Perusahaan ADHI, Ki Syahgolang Permata, menuturkan saham yang dijual sebanyak 4.459 lembar dengan nilai sebesar Rp 4,46 miliar. Penjualan telah dilakukan pada 22 Desember 2015.

    Baca: Adhi Karya Kantongi Kontrak Baru Rp 13,4 Triliun

    Menurut Syahgolang, perseroan menjual saham tersebut dengan sejumlah pertimbangan. Pertama, kondisi Lamong Energi Indonesia tidak kunjung beroperasi karena keterlambatan pembangunan plant yang mundur dari waktu perencanaan.

    “LEGI, yang masih dalam tahap pengembangan, masih membutuhkan dana untuk investasi dan ADHI sebagai pemegang saham LEGI diharapkan melakukan tambahan setoran modal,” ujar Ki Syahgolang, seperti dikutip dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Senin, 26 Desember 2016.

    Baca: Adhi Karya Kejar Target Kontrak Rp 4,5 Triliun

    Selain itu, perseroan mempertimbangkan kebutuhan listrik di Terminal Teluk Lamong dibanding rencana bisnis awal, yaitu sebesar 105 juta kWh per tahun menjadi 17,3 juta kWh/tahun. Terminal Teluk Lamong hanya bersedia membeli sebagian dari kapasitas yang terpasang sehingga akan menurunkan pendapatan Lamong Energi.

    Adapun sifat afiliasi antara ADHI dan Terminal Lamong, keduanya merupakan badan usaha milik negara. Terminal Teluk Lamong selaku pembeli saham ADHI merupakan anak usaha dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pelindo III.

    DESTRIANITA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.