Analis: Harga Komoditas Bakal Topang IHSG

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Papan indeks bursa saham di Bank Mandiri, SCBD, Jakarta, Kamis (29/10). Aksi panik jual dan dugaan forced sell sempat memaksa IHSG turun lebih dari 100 poin pada awal perdagangan, pada perdagangan Kamis (29/10/2009). TEMPO/Dwianto Wibowo

    Papan indeks bursa saham di Bank Mandiri, SCBD, Jakarta, Kamis (29/10). Aksi panik jual dan dugaan forced sell sempat memaksa IHSG turun lebih dari 100 poin pada awal perdagangan, pada perdagangan Kamis (29/10/2009). TEMPO/Dwianto Wibowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Analis ekonomi dari First Asia Capital David Sutyanto memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan dalam rentang terbatas.

    "IHSG diperkirakan akan bergerak dengan support di 5.180 dengan resisten di 5.230 berpeluang melanjutkan penguatan terbatas," kata David Sutyanto dalam pesan tertulisnya, Rabu, 23 November 2016.

    Kenaikan indeks, menurut David, terutama ditopang meredanya risiko pasar saham dan tren menguatnya harga komoditas logam. Semalam pasar saham global melanjutkan penguatan ditopang saham sektor energi, material, telekomunikasi.

    Meski harga minyak terkoreksi -0,66 persen di harga US$ 47,92 per barel, namun beberapa harga komoditas menguat. Hal ini di antaranya ditunjukkan dari Indeks harga saham emiten asal Indonesia yang diperdagangkan di bursa Amerika Serikat I Shares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang naik 1,23 persen. Harga batubara dan timah juga menguat 1,82 persen dan 0,96 persen.

    Indeks saham di Uni Eropa, Eurostoxx, naik 0,4 persen di 3.044,33. Di Wall Street Indeks DJIA untuk pertama kali tutup di atas 19.000 yakni di 19.023 atau menguat 0,4 persen. Indeks S&P turut memecahkan rekornya untuk pertama kali tutup di atas 2.200 yakni di 2.202 atau naik 0,2 persen.

    Indeks Nasdaq menguat 0,3 persen di 5.386,35. "Saham sektor energi dan pertambangan logam melanjutkan rally ditopang sentimen atas rally harga komoditasnya," kata David.

    Selain itu, pasar juga merespon positif data penjualan rumah bekas di AS Oktober lalu mencapai 5,6 juta unit di atas perkiraan 5,4 juta unit. Ini merupakan level tertinggi sejak Februari 2007. Perekonomian AS menunjukkan pemulihan berlanjut. Pasar berspekulasi perekonomian AS mampu menghadapi rencana kenaikan bunga di Desember mendatang.

    Meredanya risiko pasar emerging market terutama ditopang naiknya harga minyak mentah dan sejumlah harga komoditas logam kembali mendorong aksi spekulasi beli pemodal atas sejumlah saham sektoral terutama tambang dan konsumsi.

    Pada perdagangan kemarin IHSG akhirnya berhasil menguat tutup di 5.204,674 atau menguat 56,355 poin (1 persen). Meski demikian, menurut David, penguatan ini dinilai bersifat spekulatif di tengah masih tingginya risiko keluarnya modal asing.

    DESTRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.