Empat Kebijakan Soekarwo untuk Atasi Inflasi Jawa Timur

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi pasar tradisional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Ilustrasi pasar tradisional. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.COSurabaya - Gubernur Jawa Timur Soekarwo menyiapkan empat kebijakan untuk mengendalikan inflasi di Provinsi Jawa Timur. Empat kebijakan itu adalah operasi pasar, pemberian subsidi ongkos angkut delapan komoditas, penguatan sektor produksi, serta penerapan sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok.

    Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tinggi tidak berguna apabila dibarengi dengan tingginya inflasi. "Karena inflasi yang besar akan membebani dan menggerogoti kondisi masyarakat miskin," kata Soekarwo saat membuka Rapat Koordinasi Wilayah Tim Pengendali Inflasi Daerah se-Jawa Timur di Auditorium Bank Indonesia di Jalan Pahlawan, Surabaya, Rabu, 16 November 2016.

    Baca juga:
    8 Komoditas di Jawa Timur Ini Dapat Subsidi Distribusi
    Samsung Gear S3, Jam Tahan Air Dilengkapi Samsung Pay

    Soekarwo menuturkan, pada sektor penguatan sektor produksi pertanian dan perkebunan, Jawa Timur mengalami surplus. Untuk komoditas beras surplus 5,13 juta ton, jagung 6,39 ton, dan gula 802 ribu ton. Untuk sektor peternakan, Jawa Timur berkontribusi sebanyak 27 persen terhadap nasional. Sedangkan untuk populasi ternak sapi potong sekitar 4,071 juta ekor. Adapun untuk ayam ras petelur berkontribusi secara nasional sekitar 43.927 juta ekor.

    Kebijakan pengendalian inflasi, Soekarwo melanjutkan, juga dilakukan dengan melaksanakan operasi pasar dan bantuan subsidi ongkos angkut. Menurut dia, operasi pasar dilakukan terhadap sejumlah kebutuhan bahan pokok. Sedangkan subsidi ongkos angkut merupakan salah satu cara jitu untuk mengendalikan harga kebutuhan bahan pokok dengan memotong rantai distribusi dari distributor 1 ke distributor 4.

    Kebijakan selanjutnya, kata dia, melalui sistem informasi ketersediaan dan perkembangan harga bahan pokok (siskaperbapo). Dalam siskaperbapo ini akan dijabarkan 19 komoditas kebutuhan masyarakat dari 116 pasar yang tersebar di Jawa Timur. “Masyarakat akan mengetahui berapa harga sejumlah kebutuhan bahan pokok yang tersebar, sehingga mereka dengan mudah menerima informasi terkait dengan kebutuhan bahan pokok,” ujarnya.

    Baca juga:
    Kadin: Pengusaha AS Minta Indonesia Tak Khawatir Soal Trump
    Trump Proteksi Pasar AS, Begini Dampaknya bagi Indonesia

    Adapun Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur Benny Siswanto mengatakan perkembangan inflasi di Jawa Timur sampai pada Oktober 2016 relatif terkendali. Relatif terjaganya harga komoditas pangan dan beberapa komoditas lain, kata dia, dipengaruhi kebijakan Pemprov Jawa Timur sehingga menopang terkendalinya inflasi di Jawa Timur.

    Pada Oktober 2016, Soekarwo berujar, Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,14 persen (mtm), sehingga secara tahunan Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 2,74 persen (yoy). Secara bulanan (mtm) dan tahunan (yoy), Jawa Timur mengalami inflasi lebih rendah dibandingkan nasional yang tercatat sebesar 0,14 persen (mtm) dan 3,31 persen (yoy). Selain itu, secara kumulatif (ytd), Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 1,82 persen (ytd), lebih rendah dibanding nasional yang tercatat sebesar 2,11 persen (ytd).

    NUR HADI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.