Inggris Keluar dari Uni Eropa, Asia Diuntungkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati berbicara pada panel di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia Group di Washington, 7 Oktober 2016. REUTERS/James Lawler Duggan

    Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati berbicara pada panel di pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia Group di Washington, 7 Oktober 2016. REUTERS/James Lawler Duggan

    TEMPO.COJakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan Asia akan terkena dampak positif dari keputusan Inggris meninggalkan Uni Eropa (Brexit). Sebab, Asia menyediakan pasar baru bagi Inggris.

    Menurut Sri Mulyani, keluarnya Inggris dari Uni Eropa membuat pemerintah Inggris bersolek memperkuat daya tariknya bagi negara lain. "Mereka akan lakukan upaya dan hubungan dengan negara di kawasan Asia yang memiliki pertumbuhan paling tinggi," katanya di kompleks DPR, Jakarta, Rabu, 12 Oktober 2016.

    Salah satu upaya Inggris adalah mengembalikan nilai tukar pound sterling. Sejak referendum Brexit diputuskan, nilai tukar pound sterling menurun. Namun, pada perdagangan Rabu, 12 Oktober 2016, nilai pound sterling naik 1,27 persen terhadap dolar Amerika.

    Penguatan tersebut terjadi setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May menyetujui keterlibatan parlemen Inggris dalam pengambilan keputusan posisi Inggris di Uni Eropa.

    Baca: Ini Resep Genjot Ekspor ala Jokowi  

    Namun penguatan pound sterling masih dibayangi keputusan bank sentral Amerika, The Fed, terkait dengan suku bunga. The Fed akan mengumumkan keputusannya pada Kamis, 13 Oktober 2016 pukul 02.00 WIB.

    Sebelumnya, utusan dagang Perdana Menteri Inggris untuk Indonesia, Richard Graham, mengatakan, dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, akan membuka peluang bisnis baru yang lebih banyak dengan negara lain di Asia, termasuk menjajaki pasar Indonesia.

    “Pengaruh Brexit tidak berdampak signifikan. Justru peluang banyak sekali karena Inggris bisa menjajaki pasar, dan Indonesia menjadi salah satu pasar terbesar di ASEAN,” ujar Richard Graham dalam forum pertemuan Diskusi Kadin dengan kamar dagang Inggris, BritCham, di Hotel Mandarin Oriental, Jakarta Pusat, Selasa, 30 Agustus 2016.

    Richard menuturkan putusnya hubungan Inggris dan Uni Eropa justru membuka peluang investasi yang lebih besar karena sebelumnya hubungan kerja sama yang terjalin terbatas. Terlebih sebenarnya nilai investasi Inggris juga lebih banyak bila dibandingkan dengan anggota Uni Eropa lainnya.

    Simak: Indonesia Police Watch Minta Polisi Segera Periksa Ahok  

    Wakil Ketua Umum Hubungan Internasional Kadin Shinta Kamdani mengatakan Brexit tidak terlalu berdampak signifikan bagi Indonesia karena perdagangan dan hubungan internasional yang relatif berimbang. Bahkan sebaliknya, situasi tersebut harus dilihat sebagai kesempatan bagi Indonesia. 

    “Kadin bersama pemerintah Indonesia akan bekerja sama menghindari dampak negatif Brexit, dan pada saat yang sama mencari kesempatan baru untuk mengoptimalkan perdagangan dan hubungan internasional,” tutur Shinta.

    VINDRY FLORENTIN | DESTRIANITA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.