Pemerintah Optimalisasi Waduk Menjadi PLTA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi tagihan listrik, pulsa listrik, kenaikan tarif listrik. ANTARA FOTO

    Ilustrasi tagihan listrik, pulsa listrik, kenaikan tarif listrik. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian BUMN berencana  mengoptimalisasi kegunaan waduk, bukan hanya sebagai penyedia air untuk irigasi akan tetapi menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

    "Bersama dengan Statkraft, perusahaan asal Norwegia, mereka tertarik untuk hidropower di Indonesia karena potensi yang ada cukup besar. Kami memberikan jaminan kemudahan untuk berinvestasi," kata Menteri BUMN, Rini Soemarno, di Copenhagen, Denmark, Senin (20 September 2016).

    Dia mengatakan, Kementerian BUMN telah meminta perusahaan yang berbasis di Norwegia itu untuk menilai 60 waduk yang ada di Indonesia. Untuk tahap awal, akan dimulai di Pulau Jawa untuk menilai potensi-potensi yang ada.

    "Memang waduk ini sudah ada dan dipergunakan untuk irigasi, namun kami melihat potensi untuk hydropower. Mereka berencana datang ke Indonesia pada Oktober 2016 ke Indonesia," ujar Soemarno.

    Salah satu contoh di Bendungan Jatiluhur, di Jawa Barat. Pada waduk yang membendung air dari Sungai Citarum itu sesungguhnya memiliki potensi sebesar 600 MegaWatt (MW).

    "Jatiluhur itu memiliki potensi 600MW, akan tetapi saat ini masih di bawah 100MW. Dengan rencana ini, nantinya juga akan bisa masuk dalam program tambahan energi listrik sebesar 35.000MW. Ini juga untuk energi terbarukan, dimana Indonesia memiliki komitmen untuk hal itu," kata Rini.

    Sementara itu, Direktur Perencanaan Korporat PT Perusahaan Listrik Negara, Nicke Widyawati, mengatakan, "Dari 60 waduk tersebut, semuanya dipastikan bisa untuk hydropower. Sesungguhnya semua waduk itu memiliki potensi, namun selama ini masih hanya dipergunakan untuk irigasi saja."

    Menurut dia, sesungguhnya di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar untuk pembangkit listrik tenaga air, terlebi di luar Pulau Jawa. Salah satu contoh adalah sungai di Provinsi Kalimantan Utara memiliki potensi mencapai 6.000MW.

    "Jika di luar Pulau Jawa potensinya besar, tapi permintaannya sedikit. Listrik di Indonesia itu bukan hanya soal membangun saja. Seperti di Kaltara, itu satu sungai bisa 6.000MW potensinya, tapi permintaan hanya 60MW. Jadi harus mendekatkan industrinya," kata dia.

    Widyawati menambahkan, jika sumber potensi pembangkit listrik tenaga air tersebut ada di Pulau Jawa, maka masih bisa ditransmisikan. Namun, jika di luar Pulau Jawa, memang sedikit mengalami kesulitan akan tetapi bisa mendekatkan sektor industri ke wilayah yang memiliki potensi besar.

    "Berbeda dengan di Norwegia, listrik bisa dijual ke negara lain. Sementara di Indonesia ada 17.000 pulau, dan permintaan ada yang besar dan kecil," kata dia.

    Sumarno dan rombongan tengah melakukan kunjungan kerja ke empat negara Skandinavia, yaitu Norwegia, Swedia, Finlandia, dan dan Denmark, sepekan terakhir. Dalam kunjungan kerja tersebut, pemerintah tengah berupaya menarik investor dari negara-negara itu untuk melakukan investasi di Indonesia.

    Pada akhir kunjungan ke Denmark, telah dilakukan penandatanganan perjanjian pembelian listrik antara PT PLN Persero dengan kelompok internasional investor dan menggandeng Vestas Wind Systems Denmark untuk proses konstruksi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ashraf Sinclair dan Selebritas yang Kena Serangan Jantung

    Selain Ashraf Sinclair, ada beberapa tokoh dari dunia hiburan dan bersinggungan dengan olah raga juga meninggal dunia karena serangan jantung.