Mentan: Pembatasan Kuota Impor Jagung Selamatkan Devisa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo

    ANTARA/Herka Yanis Pangaribowo

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim kebijakan pembatasan kuota impor jagung pada tahun ini berhasil menyelamatkan devisa negara sebesar Rp10 triliun.

    “Sepanjang tahun lalu impor jagung itu 3,6 juta ton. Sedangkan sampai hari ini impor baru 800.000 ton. Devisa yang kita belanjakan untuk impor jagung Rp10 triliun selamat,” katanya di Jakarta, Senin (19 September 2016).

    Amran tidak merinci lebih lanjut kalkulasi sehingga medapatkan angka tersebut. Namun, sebagai pembanding, pada periode yang sama tahun lalu Amran telah menandatangani rekomendasi impor jagung sebanyak 2,5 juta ton.

    “Jadi impor turun sampai 60% (menjadi 800.000 ton). Padahal biasanya tiap tahun impor selalu naik 5%. Penurunan ini ekstrim,” ucapnya.

    Pria asal Sulawesi Selatan ini mengatakan Kementerian Pertanian menyiapkan Rp3 triliun untuk meningkatkan produktivitas jagung terhitung dari kuartal IV/2016 sampai tahun depan. Dia menargetkan produksi jagung tahun ini bisa di atas 22 juta ton.

    Guna memuluskan rencana itu, Kementan sudah menyiapkan 1 juta lahan hingga 2017. Lahan itu berasal baik dari lahan tidur maupun utilisasi area perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, hingga konsesi Perum Perhutani.

    “Insya Allah paling lambat pada 2018 Indonesia tidak lagi impor jagung. Kalau bisa lebih cepat lebih bagus,” kata Amran.

    Tidak hanya jagung, pemilik Grup Tiran ini juga memamerkan keberhasilan lainnya untuk komoditas tanaman pangan lainnya. Untuk beras, Amran mengatakan harga jualnya kini sudah turun dan ada stok kurang lebih 2 juta ton sampai Mei 2017.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kemenag Berikan Pedoman Berkegiatan di Rumah Ibadah saat Pandemi

    Kementerian Agama mewajibkan jemaah dan pengurus untuk melaksanakan sejumlah pedoman ketika berkegiatan di rumah ibadah saat pandemi covid-19.