Mendag Akan Pangkas Rantai Distribusi Bawang Merah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pedagang merapihkan bawang merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 1 Februari 2016. Menurut Badan Pusat Statistuk Nasional inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari yaitu 2,2 persen. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.COBrebes - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito akan memangkas rantai distribusi bawang merah. Menurut dia, mata rantai yang terlalu panjang membuat jarak harga di tingkat petani dan konsumen juga tinggi.

    “Ada tujuh rantai yang harus dilewati, ini berlebihan,” kata Enggartiasto saat kegiatan panen raya bawang merah di Desa Glonggong, Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, Jumat, 12 Agustus 2016.

    Enggartiasto yang belum sebulan menjabat menteri itu berjanji akan membenahi sistem perdagangan bawang merah secara nasional. Ia akan membentuk tim untuk menelusuri panjangnya rantai distribusi tersebut. “Ini tidak bisa dibiarkan, akan kami telusuri. Petani tidak boleh menderita,” katanya.

    Beberapa waktu lalu, Ketua Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Juwari mengatakan melonjaknya harga bawang merah ini karena panjangnya rantai distribusi. Juwari mengungkapkan penjualan bawang merah dari petani ke konsumen harus melewati beberapa tahap, yaitu dari petani-penebas-pengepul-pedagang induk-pengecer-konsumen. "Selama ini memang distribusi selalu begitu," katanya.

    BacaKecewa, Petani Buang Bawang Merah di Kantor Bulog

    Saat berada di Indramayu, Jawa Barat, Enggartiasto menemukan selisih harga bawang merah di petani dan di konsumen terlalu tinggi. “Di petani harganya Rp 14-16 ribu per kilogram, di pasar harganya Rp 38 ribu per kilogram,” ujarnya.

    Menurut Enggartiasto, saat ini masih ada beberapa kelompok yang memainkan harga bawang. Akibatnya, petani dirugikan dan kelompok itulah yang mendapatkan untung besar. Untuk memangkas mata rantai, pihaknya berencana mengajak bicara kelompok tersebut. “Mau dipotong (mata rantai) ya alhamdulillah, tidak mau ya tetap kita potong (mata rantai),” ujarnya.

    Selain memangkas mata rantai distribusi, pemerintah berjanji akan membantu petani agar harga bawang merah paling rendah Rp 15 ribu. Harga bawang merah paling tinggi juga akan ditetapkan pemerintah agar petani tidak dirugikan.

    Berdasarkan informasi yang dihimpun Tempo, harga bawang merah di tingkat petani dalam sepekan terakhir anjlok. Salah seorang petani di Desa Glonggong, Kusmono, 40 tahun, mengaku menjual bawang merah Rp 16 ribu per kilogram. “Sudah turun sepekan yang lalu,” katanya saat ditemui di sawahnya, Jumat, 12 Agustus 2016.

    Anehnya, harga bawang merah di tingkat konsumen masih tinggi, yakni Rp 35-40 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya, harga di tingkat petani sekitar Rp 25-26 ribu per kilogram dan di tingkat konsumen Rp 40 ribu per kilogram. “Saya juga tidak tahu kenapa, kok masih tinggi di pasaran,” katanya. Kusmono menduga, anjloknya harga bawang ini disebabkan oleh stok yang melimpah. Banyak petani yang sudah mengalami panen raya.

    Kegiatan panen raya ini juga dihadiri Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Dalam kesempatan itu, Amran sesumbar kepada media jika ekspor bawang merah ke luar negeri tahun ini meningkat. Namun dia tidak menyebut berapa peningkatan tersebut. “Angkanya saya kurang tahu,” katanya. Adapun tahun lalu Indonesia telah mengekspor bawang merah ke luar negeri sebanyak 8.000 ton.

    MUHAMMAD IRSYAM FAIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    New Normal, Cara Baru dalam Bekerja demi Menghindari Covid-19

    Pemerintah menerbitkan panduan menerapkan new normal dalam bekerja demi keberlangsungan dunia usaha. Perlu juga menerapkan sejumlah perlilaku sehat.