Harga Minyak Turun, PLN Pangkas Tarif Listrik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivitas pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Garut, Jawa Barat, Jumat (18/3) PLPT Kamojang  menjadi salah satu sumber listrik  utama  pada sistem kelistrikan Jawa - bali yang di salurkan  melalui trasmisi 150 kv. UBP kamojang mengoperasikan PLTP di tiga lokasi dengan total kapasisatas  terpasang 375 MW, yaitu PLTP Kamojang, Pltp Darajat, dan PLTP Gunung Salak, di Jawa Barat. TEMPO/Dasril Roszandi

    Aktivitas pekerja Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang Garut, Jawa Barat, Jumat (18/3) PLPT Kamojang menjadi salah satu sumber listrik utama pada sistem kelistrikan Jawa - bali yang di salurkan melalui trasmisi 150 kv. UBP kamojang mengoperasikan PLTP di tiga lokasi dengan total kapasisatas terpasang 375 MW, yaitu PLTP Kamojang, Pltp Darajat, dan PLTP Gunung Salak, di Jawa Barat. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.COJakarta - PT PLN (Persero) kembali menurunkan tarif listrik nonsubsidi sebesar sekitar Rp 47 per kWh, berlaku buat 12 golongan pada Maret dibanding pada Februari 2016.

    Kepala Divisi Niaga PLN Benny Marbun, di Jakarta, Selasa, 1 Maret 2016, mengatakan penurunan tarif listrik untuk 12 golongan pelanggan tersebut terutama diakibatkan penurunan harga minyak mentah (Indonesia crude price/ICP).

    "Penurunan tarif listrik pada Maret ini lagi-lagi terutama karena penurunan ICP dari semula US$ 35,48 per barel pada Desember 2015 menjadi US$ 27,49 per barel pada Januari 2016," ujarnya.

    Ia melanjutkan, penurunan besaran inflasi dari 0,96 persen pada Desember 2015 menjadi 0,51 persen pada Januari 2016 dan relatif tetapnya nilai tukar rupiah 13.855 per dolar AS pada Desember 2015 menjadi 13.889 pada Januari 2016 juga membantu penurunan tarif listrik pada Maret dibanding pada Februari 2016.

    Benny mengatakan tarif listrik konsumen dengan tegangan rendah (TR) mengalami penurunan dari Februari 2016 sebesar Rp 1.392 menjadi Rp 1.355 per kWh pada Maret 2016.

    Golongan tarif yang masuk kelompok TR adalah rumah tangga kecil R1/1.300 VA, rumah tangga kecil R1/2.200 VA, rumah tangga sedang R2/3.500-5.500 VA, dan rumah tangga besar R3/6.600 VA ke atas.

    Pelanggan lain adalah bisnis menengah B2/6.600 VA-200 kVA, pemerintah sedang P1/6.600 VA-200 kVA, dan penerangan jalan P3.

    Lalu, kata dia, tarif listrik konsumen dengan tegangan menengah (TM) mengalami penurunan dari Rp 1.071 pada Februari menjadi Rp 1.042 per kWh pada Maret 2016.

    Golongan TM itu adalah bisnis besar B3/di atas 200 kVA, industri menengah I3/di atas 200 kVA, dan pemerintah besar P2/di atas 200 kVA.

    Selanjutnya, tarif pelanggan pada tegangan tinggi (TT) turun dari Rp 959 pada Februari menjadi Rp 933 per kWh pada Maret 2016.

    Golongan tarif yang masuk kelompok TT itu adalah industri skala besar I4/di atas 30 MVA.

    Terakhir, tarif konsumen untuk layanan khusus termasuk premium, yakni golongan layanan khusus L di TR/TM/TT turun dari Rp 1.573 pada Februari 2016 menjadi Rp 1.532 per kWh pada Maret 2016.

    "Semakin rendahnya tarif listrik bagi industri dan bisnis skala menengah dan besar ini tentunya diharapkan berdampak positif bagi meningkatnya daya saing industri terhadap produk impor serta semakin bergairahnya dunia usaha," ucapnya.

    Mulai Desember 2015, sebanyak 12 golongan tarif listrik nonsubsidi itu mengikuti mekanisme tariff adjustment (tarif penyesuaian).

    Dengan skema tersebut, tarif listrik mengalami fluktuasi naik atau turun yang bergantung pada tiga indikator, yakni ICP, kurs, dan inflasi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.