Tolak PP Pengupahan, Buruh Cari Dukungan Internasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ribuan buruh melakukan aksi dorong motor saat demo Mogok Nasional di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta, 26 November 2015. Aksi buruh menolak Peraturan Pemerintah (PP) 78/2015 tentang Pengupahan, masih terus berlanjut hingga 27 November 2015. TEMPO/Subekti

    Ribuan buruh melakukan aksi dorong motor saat demo Mogok Nasional di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta, 26 November 2015. Aksi buruh menolak Peraturan Pemerintah (PP) 78/2015 tentang Pengupahan, masih terus berlanjut hingga 27 November 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menolak Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Mereka mendapat dukungan dari Serikat Buruh Internasional (International Trade Union Confederation/ITUC).

    "Kebijakan upah murah tidak tepat sasaran akibatnya daya beli makin turun," kata Presiden KSPI Said Iqbal di Hotel Sari Pan Pacific, Kamis, 4 Februari 2016.

    Sekretaris Jenderal ITUC Sharan Burrow menyatakan buruh harus dilibatkan dalam penentuan upah minimum. "Pemerintah Indonesia seharusnya menyadari pentingnya melibatkan buruh dalam negosiasi upah. Tanpa upah layak untuk buruh, ekonomi tak akan tumbuh," ujarnya.

    Burrow menyatakan upah rendah itu menjadikan pemiskinan secara struktural di Indonesia. "Bahkan upah di sini berbeda US$ 100 dengan daerah terpencil di Tiongkok. Itu menunjukkan ada sesuatu yang salah," tuturnya.

    Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menandatangani PP Nomor 78 tahun 2015 tentang Pengupahan. Dalam beleid ini, formulasi upah minimum nantinya akan dihitung hanya sekadar angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi yang dikeluarkan lembaga pemerintah (BPS) tanpa survei harga-harga kebutuhan pokok setiap tahun yang menjadi patokan komponen hidup layak.

    Dengan PP ini, kewenangan dewan pengupahan pun sebatas melakukan peninjauan kebutuhan hidup layak berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja tentang penetapan komponen dan jenisnya.

    PINGIT ARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kobe Bryant Sang Black Mamba: Saya Tak Ingin Jadi Michael Jordan

    Pemain bola basket Kobe Bryant meninggal pada 26 Januari 2020, dalam kecelakaan helikopter di dekat Calabasas, California. Selamat jalan Black Mamba!