Inflasi Januari: 0,51 persen, Dipengaruhi Daging dan Beras  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Perdagangan Rahmat Gobel memegang kalkulator sambil berbincang dengan pedagang buah saat melakukan sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 10 Juli 2015. Rachmat Gobel mengimbau kepada pedagang di pasar agar tidak menaikan harga terlalu tinggi yang menyebabkan dan berpengaruh kepada inflasi.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Menteri Perdagangan Rahmat Gobel memegang kalkulator sambil berbincang dengan pedagang buah saat melakukan sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, 10 Juli 2015. Rachmat Gobel mengimbau kepada pedagang di pasar agar tidak menaikan harga terlalu tinggi yang menyebabkan dan berpengaruh kepada inflasi.TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.COJakarta - Laju inflasi pada Januari 2016 sebesar 0,51 persen dipengaruhi oleh kenaikan harga pada kelompok bahan makanan, seperti daging ayam ras dan beras. 

    "Kelompok bahan makanan yang mengalami kenaikan harga adalah daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, bawang putih, beras, dan daging sapi," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin di Jakarta, Senin, 1 Februari 2016. 

    Suryamin menjelaskan, dengan kenaikan harga tersebut, kelompok bahan makanan menjadi komponen pembentuk inflasi tertinggi pada Januari, yaitu 2,2 persen, diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,53 persen. 

    "Kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar ikut menyumbang inflasi karena adanya kenaikan tarif tenaga listrik," ujarnya. 

    Selain itu, kelompok lain yang ikut mengalami inflasi adalah makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,51 persen, kelompok kesehatan 0,36 persen, kelompok sandang 0,26 persen, serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga 0,15 persen. 

    Sedangkan satu-satunya kelompok yang menyumbang deflasi pada Januari adalah transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, yaitu 1,11 persen, karena turunnya tarif angkutan udara sebagai dampak dari rendahnya harga bahan bakar minyak. 

    Dengan inflasi Januari 2016 tercatat 0,51 persen, inflasi tahun kalender 0,51 persen dan inflasi tahunan (yoy) 4,14 persen. Adapun inflasi komponen inti pada Januari 0,29 persen dan inflasi inti tahunan (yoy) 3,62 persen.

    Dari 82 kota IHK, sebanyak 75 kota mengalami inflasi dan hanya 7 kota yang menyumbang deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sibolga 1,82 persen dan inflasi terendah di Padang 0,02 persen. Sedangkan deflasi tertinggi di Gorontalo 0,58 persen. 

    Menurut Suryamin, meskipun relatif tinggi, inflasi Januari 2016 sebesar 0,51 persen masih lebih rendah dari rata-rata inflasi pada Januari sejak 2010, kecuali pada Januari 2015 yang tercatat deflasi 0,24 persen.

    "Januari tahun lalu, deflasi karena ada penurunan harga BBM. Tapi dari 2010 hingga 2014, Januari ini inflasi paling kecil dalam kondisi normal. Ini mudah-mudahan awal yang baik di 2016, tapi kita tetap waspada," katanya. 

    Menurut data BPS, inflasi pada Januari 2010 tercatat sebesar 0,84 persen, 2011 sebesar 0,89 persen, 2012 sebesar 0,76 persen, 2013 sebesar 1,03 persen, dan inflasi Januari 2014 sebesar 1,07 persen. 

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.