Organisasi Buruh: Ancaman Pengangguran Meningkat Tahun Ini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Abdul Hafid, memperlihatkan sejumlah formulir ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang diikuti anak dan menantunya yang  hilang setelah bergabung, Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Januari 2016. Gafatar merekrut anak-anak muda hingga para pengusaha, dosen, dokter, maupun buruh. Gafatar juga melakukan pendekatan melalui kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan mereka juga menjanjikan beasiswa kepada anak-anak muda yang masih kuliah. ANTARA/Dewi Fajriani

    Abdul Hafid, memperlihatkan sejumlah formulir ormas Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) yang diikuti anak dan menantunya yang hilang setelah bergabung, Makassar, Sulawesi Selatan, 13 Januari 2016. Gafatar merekrut anak-anak muda hingga para pengusaha, dosen, dokter, maupun buruh. Gafatar juga melakukan pendekatan melalui kegiatan-kegiatan sosial. Bahkan mereka juga menjanjikan beasiswa kepada anak-anak muda yang masih kuliah. ANTARA/Dewi Fajriani

    TEMPO.CO, Jakarta - Organisasi Buruh Internasional (Intenational Labour Organization/ILO) memprediksi angka pengangguran global pada tahun ini akan terus naik, terutama di negara-negara berkembang.

    Angka terakhir untuk pengangguran pada 2015 diperkirakan mencapai 197,1 juta dan pada 2016 perkiraan tersebut meningkat hingga 2,3 juta mencapai 199,4.

    Tambahan sekitar 1,1 juta pengangguran diperkirakan meningkatkan jumlah penghitungan global pada 2017, menurut Laporan ILO berjudulWorld Employment and Social Outlook Trends 2016(WESO).

    Perlambatan yang berarti dalam perekonomian di negara-negara sudah berkembang ditambah dengan penurunan tajam dalam harga-harga komoditas memberikan dampak yang dramatis terhadap dunia kerja, kata Direktur Jenderal ILO Guy Ryderdalam keterangan resmi, Jumat (22 Januari 2016).

    Menurutnya, banyak pekerja perempuan dan laki-laki yang harus menerima pekerjaan berupah rendah baik di negara-negara sudah berkembang maupun berkembang dan juga semakin meningkat di negara-negara maju.

    Kendati terjadi penurunan pengangguran di sejumlah negara Uni Eropa dan Amerika Serikat, masih terlalu banyak orang yang menganggur. Kita harus melakukan aksi untuk mendorong peluang kerja yang layak atau kita menghadapi risiko tensi sosial yang makin besar.

    Pada 2015, jumlah pengangguran global berkisar 197,1 juta 27 juta lebih tinggi ibandingkan tingkat pra-krisis tahun 2007.

    Tingkat pengangguran di negara-negara maju menurun dari 7,1%pada 2014 menjadi 6,7%pada 2015. Dalam banyak kasus, kemajuan ini sayangnya tidak memadai untuk menghapuskan kesenjangan pekerjaan yang muncul sebagai akibat krisis keuangan global.

    Selanjutnya, kondisi ketenagakerjaan saat ini melemah di negara-negara sudah berkembang dan berkembang, khususnya di Brasil, Cina dan negara-negara penghasil minyak.

    Lingkungan perekonomian yang tidak stabil yang tercermin pada aliran modal yang rentan, masih tidak berfungsinya pasar-pasar keuangan dan kurangnya permintaan global terus berpengaruh pada perusahaan dan investasi serta penciptaan lapangan kerja, Raymond Torres, Direktur Departemen Penelitian ILO menjelaskan.

    Penulis WESO juga mendokumentasikan fakta bahwa kualitas pekerjaan masih menjadi tantangan utama.

    Meski terjadi penurunan tingkat kemiskinan, tingkat penurunan pekerja miskin di negara-negara berkembang melambat dan pekerjaan rentan masih mencapai lebih dari 46%dari jumlah pekerjan secara global, yang berdampak pada hampir 1,5 milyar orang.

    Pekerjaa rentan terbilang tinggi khususnya di perekonomian sudah berkembang dan berkembang, mencapai antara setengah dan tiga perempat populasi pekerja di kelompok-kelompok negara tersebut, dengan tertinggi di Asia Selatan (74%) dan Afrika sub-Sahara (70%).

    Sementara itu, laporan memperlihatkan bahwa pekerjaan informal sebagai persentase pekerjaan non-pertanian melampaui 50%di setengah negara-negara berkembang dan sudah berkembang dengan data perbandingan.

    Di satu pertiga dari negara-negara ini, hal ini berdampak pada lebih 65%pekerja.

    Kurangnya pekerjaan layak mengarahkan orang pada pekerjaan informal, yang ditandai dengan rendahnya produktivitas, upah rendah dan tanpa perlindungan sosial. Ini harus diubah.

    Melakukan respons segera dan kuat terhadap skala tantanga pekerjaan global merupakan kunci keberhasilan penerapan Agenda Pembangunan Berkelanjutan PBB tahun 2030 yang baru saja diadopsi, demikian Ryder.

    BISNIS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.