BEI: Mundurnya Maroef Bukan Pemicu Saham Freeport Jeblok

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Direktur PT Freport Indonesia, Maroef Syamsoedin usai memberikan keterangan di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung RI, Jakarta, 8 Desember 2015. TEMPO/Amston Probel

    Presiden Direktur PT Freport Indonesia, Maroef Syamsoedin usai memberikan keterangan di Gedung Jampidsus Kejaksaan Agung RI, Jakarta, 8 Desember 2015. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia, Nicky Hogan, mengatakan mundurnya Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin bukan penyebab terpuruknya saham Freeport-McMoran yang diperdagangkan di New York Stock Exchange.

    Menurut Nicky, anjloknya saham Freeport karena pada kenyatannya harga komoditas sedang mengalami penurunan. "Kalau dilihat dari grafik saham Freeport di luar itu memang mengalami penurunan, bukan karena kasus Freeport dan lain-lain,” ujar  Nicky di Bursa Efek Indonesia, Rabu, 20 Januari 2016. “Lebih karena kondisi saham komoditas sedang turun.”

    Terlebih, kata Nicky, pensiunan Wakil Kepala Badan Intelijen Nasional itu mengajukan permohonan diri dari pekerjaan karena masa kontraknya habis dan tidak ingin memperpanjang. “Bukan karena diberhentikan sebelum waktunya,” tuturnya.

    Berdasarkan pantauan Tempo, saham Freeport-McMoran yang diperdagangkan di New York Stocks Exchange atau NYSE terus menurun. Saat ini saham dengan Kode FCX itu dijual dengan harga US$ 3,96 per lembar saham, menurun sebesar 0,59 poin dari pembukaan perdagangan yang berada di angka US$ 4,55.

    Posisi saham Freeport-McMoran berada di level tertinggi pada US$ 4,58 dan level terendah pada US$ 3,92. Padahal penutupan perdagangan kemarin harga saham berada di angka US$ 4,35 per lembar.

    Menurut Nicky, masih ada peluang bagi saham komoditas, termasuk saham Freeport untuk kembali rebound apabila ada sentimen positif yang bisa mendorong harga komoditas kembali naik. "Kalau ke depan harga komoditas naik lagi, pasti juga naik. Itu kan karena pergerakan di pasar," ujar Nicky.

    DESTRIANITA KUSUMASTUTI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    GERD Memang Tak Membunuhmu tapi Dampaknya Bikin Sengsara

    Walau tak mematikan, Gastroesophageal reflux disease alias GERD menyebabkan berbagai kesengsaraan.