Ditolak NTB, Beras Impor Thailand Dibongkar di Banyuwangi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktifitas bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Vietnam akan memasok 1 juta ton beras ke Indonesia dengan kualitas 15 persen patahan yang dikirim mulai Oktober tahun ini hingga Maret tahun depan. Tempo/Tony Hartawan

    Aktifitas bongkar muat beras impor dari Vietnan dari kapal Hai Phong 08 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, 11 November 2015. Vietnam akan memasok 1 juta ton beras ke Indonesia dengan kualitas 15 persen patahan yang dikirim mulai Oktober tahun ini hingga Maret tahun depan. Tempo/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Banyuwangi – Sebanyak 6.800 ton beras impor asal Thailand hari ini masuk Banyuwangi, Jawa Timur, melalui Pelabuhan Tanjung Wangi. Bulog mengalihkan beras impor tersebut ke Banyuwangi, diduga setelah mendapat penolakan dari Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Barat M. Zainul Majdi.

    Wakil Kepala Bulog Divisi Regional Banyuwangi Komuli mengatakan pengalihan beras impor ke Banyuwangi tersebut telah mendapat persetujuan Gubernur Jawa Timur Soekarwo pada 5 Januari 2016. Namun, ia memastikan beras impor tersebut tidak akan beredar di Jawa Timur.

    Banyuwangi, kata Komuli, hanya menjadi tempat bongkar-muat dan penyimpanan beras impor tersebut hingga ada perintah lanjutan untuk pendistribusian ke daerah luar Jawa. “Tak sebutir pun beras impor ini akan dijual di pasar Jawa Timur,” katanya, Rabu, 6 Januari 2016.

    Kementerian Perdagangan kabarnya akan memasok beras impor tersebut ke Nusa Tenggara Barat. Bahkan kapal pengangkut beras sudah mendekati Pelabuhan Lembar, Lombok Barat.

    Namun, Gubernur Zainul Majdi tak kunjung memberikan izin bongkar-muat, bahkan terakhir dengan penolakan masuknya beras impor itu. Kapal akhirnya berbalik arah ke Banyuwangi.

    Komuli mengatakan dia tak mengetahui persis alasan penolakan Gubernur Nusa Tenggara Barat. Menurut dia, Bulog Banyuwangi hanya sebagai operator yang menerima perintah dari Perum Bulog untuk bongkar-muat serta penyimpanan.

    Namun, dia menduga kapal pengangkut beras tidak bisa bongkar-muat di pelabuhan Nusa Tenggara Barat karena berukuran besar. “Di bagian timur hanya Pelabuhan Tanjung Wangi yang mampu menampung kapal-kapal besar,” katanya.

    Hingga Januari 2016, menurut Komuli, Bulog Banyuwangi masih memiliki stok 14 ribu ton beras kualitas medium. Stok ini cukup untuk memenuhi kebutuhan beras untuk rakyat miskin (raskin) hingga tujuh bulan mendatang. Sebab kebutuhan raskin tiap bulannya sebesar 2 ribu ton.

    Kepala Kepolisian Sektor Kesatuan Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Wangi Hadi Siswoyo mengatakan telah mengetahui masuknya beras impor asal Thailand. Kepolisian akan mengawasi bongkar-muat beras impor itu agar tidak beredar di Banyuwangi. “Kami akan rutin patroli agar beras tidak bocor ke pasar,” katanya.

    IKA NINGTYAS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.