Sistem Pajak Mendesak untuk Diperbaiki  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Kantor Pelayanan Pajak. TEMPO/Nickmatulhuda

    Ilustrasi Kantor Pelayanan Pajak. TEMPO/Nickmatulhuda

    TEMPO.COJakarta - Pengamat perpajakan dari Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo menyatakan perlu adanya pembenahan dalam sistem perpajakan Indonesia. Dengan pembenahan, Yustinus optimistis penerimaan pajak akan merangsang pertumbuhan ekonomi Indonesia ke target 5,3 persen di 2016.

    “Saya kira bisa karena pemerintah akan punya cukup dana untuk belanja infrastruktur yang akan menggerakkan perekonomian dan punya efek multiplier,” kata Yustinus lewat pesan pendek kepada Tempo, Ahad, 3 Januari 2016. 

    Langkah awal, menurut Yustinus, pemerintah merevisi target penerimaan pajak 2016 yang sebesar Rp 1.360,14 triliun. Angka penerimaan pajak realistis adalah Rp 1.260 triliun. “Dengan dasar realisasi 2015 dan kenaikan 15 persen, jadi Rp 1.210 triliun ditambah tax amnesty Rp 50 triliun,” katanya. Adanya penyesuaian target pajak dari realisasi penerimaan 2015 supaya tidak menekan perekonomian di 2016.

    Selanjutnya, menurut dia, adanya perubahan paradigma. Misalnya, kata Yustinus, pengeluaran diefisiensikan dan disesuaikan dengan kemampuan. Untuk saat ini, pemerintah harus membangun hal-hal fundamental. “Pada 2018 ke sana baru akselerasi penerimaan. Kesinambungan fiskal membutuhkan fondasi yang kukuh,” katanya. 

    Adapun hambatan dalam penerimaan pajak, menurut dia, tergolong klasik. “Kita belum memiliki basis data yang bagus, koordinasi antarinstitusi yang baik, dan basis identitas yang mampu mengaitkan identitas serta aktivitas wajib pajak,” ujarnya. 

    Jika tidak ada pembenahan, menurut Yustinus, penerimaan pajak akan rendah. Dampaknya bakal mempengaruhi pengeluaran pemerintah sehingga tidak optimal. “Perlu optimalisasi penerimaan perpajakan,” katanya. Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi akan mempengaruhi pencapaian penerimaan karena tumbuhnya potensi pajak alamiah. 

    Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro sebelumnya mengatakan pemerintah berencana merevisi target penerimaan pajak 2016. Perubahan harus menunggu realisasi penerimaan pajak 2015 dan penerapan Undang-Undang Pengampunan Pajak. “Bisa naik, turun, atau tetap,” kata Bambang. 

    SINGGIH SOARES 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.