Dirut Pertamina Buka-Bukaan Soal Kerugian Rp 14,8 Triliun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto, keluar dari mobil listrik saat peluncuran dan penyerahan mobil listrik di Gedung Rektorat, Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya, 17 Januari 2015. TEMPO/Fully Syafi

    Direktur Utama PT Pertamina, Dwi Soetjipto, keluar dari mobil listrik saat peluncuran dan penyerahan mobil listrik di Gedung Rektorat, Institut Teknologi 10 Nopember, Surabaya, 17 Januari 2015. TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Dwi Soetjipto menyatakan perhitungan kerugian sebesar Rp 14,8 triliun lantaran menanggung selisih harga bahan bakar minyak bersubsidi jenis Premium. Selisih itu ditanggung sejak Februari 2015.

    "Kerugian ini untuk Premium daerah Jamali (Jawa Madura dan Bali) dan non-Jamali," ujar Dwi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VII DPR, Selasa, 1 September 2015.

    Kerugian untuk Premium wilayah Jamali sebesar Rp 5,9 triliun. Sementara wilayah non-Jamali mencapai Rp 8,9 triliun. Patokannya adalah harga jual Premium wilayah Jamali sebesar Rp 7.400 per liter, dan non-Jamali sebesar Rp 7.300 per liter.

    Perhitungan dilakukan berdasarkan harga acuan Singapura (mean of platts/MoPS) yang trennya sempat naik. Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mendukung membengkaknya selisih ini.

    Berita Menarik:
    Heboh Tren Remaja Seksi, Cuma Berbaju Kantong Plastik Tipis!
    Benar-benar Ajaib, Cangkang Telur Ini Membentuk Huruf 'Allah'

    Perhitungan harga berdasarkan rata-rata pergerakan MoPS dan kurs selama sebulan, yakni Juli-Agustus, keluar harga keekonomian Premium mencapai Rp 7.700 per liter. Untuk perhitungan rata-rata tiga bulan dan empat bulan, harga keekonomian mencapai Rp 8.450 dan Rp 8.600 per liter.

    Sedangkan jika perhitungan dilakukan secara enam bulan (periode Februari-Agustus), didapatkan harga Premium sebesar Rp 8.350 per liter. "Jadi kalau dilihat dari semua perhitungan, harga keekonomian masih lebih tinggi dari harga jual," kata Dwi.

    Akhir pekan lalu harga minyak dunia menyentuh angka US$ 40 per barel sebelum naik pada awal pekan ini ke US$ 50 per barel. Dwi menaksir jika tren harga beberapa bulan ke depan tetap rendah, harga jual Premium bisa sama dengan harga keekonomiannya.

    ROBBY IRFANY

    Berita terbaru:
    Mulyadi, Kiper Asal Indonesia, Jadi Andalan Juventus
    Hebat, Nursyahbani Berhasil Bekuk Perampok dalam Taksi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.