Pengrajin Tahu dan Tempe Butuh Ini dari Pemerintah

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja merapikan karung di gudang kedelai, Pasar Minggu, Jakarta, 9 Januari 2015. Menurut Gabungan Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Gapoktindo) Pengrajin tahu dan tempe membutuhkan 1,8 juta ton kedelai sepanjang 2015. Kebutuhan ini lebih banyak dipenuhi oleh impor ketimbang produksi dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    Pekerja merapikan karung di gudang kedelai, Pasar Minggu, Jakarta, 9 Januari 2015. Menurut Gabungan Pengusaha Tahu dan Tempe Indonesia (Gapoktindo) Pengrajin tahu dan tempe membutuhkan 1,8 juta ton kedelai sepanjang 2015. Kebutuhan ini lebih banyak dipenuhi oleh impor ketimbang produksi dalam negeri. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelaku usaha tempe dan tahu mengeluhkan minimnya pendampingan pemerintah dalam memberikan bantuan permesinan dan kebijakan guna mendorong peningkatan daya saing industri.

    Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan dengan tantangan daya saing industri, pengrajin tempe dan tahu yang diperkirakan mencapai 115.000 pelaku membutuhkan sarana permesinan yang layak.

    Menurutnya, dengan model produksi saat ini, hasil produksi kurang berdaya saing, akhibat kekhawatiran tingkat kebersihan sarana produksi. Kami minta bantuan, agar menghadapi MEA lebih siap. Menteri Perindustrian akan beri bantuan, tetapi akan dilihat dulu dimana saja lokasinya, tuturnya seusai bertemu Menteri Perindustrian Saleh Husin, Senin (31 Agustus 2015).

    Saat ini, pencucian kedelai diberbagai sentra kerajinan masih menggunakan drum bekas. Untuk itu pihaknya meminta pemerintah memberikan bantuan dengan pembuatan teknologi penyucian sederhana.

    Selain itu, dengan situasi menguatnya dolar Amerika Serikat, dikhawatirkan harga kedelai impor juga ikut melambung. Pasalnya, harga impor senilai Rp7.000 sementara harga kedelai lokal berkisar Rp7.700 per kilogram.

    Kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,5 juta ton, sementara impornya mencapai 2 juta ton. Untuk diproduksi menjadi tempe dan tahu, setidaknya dibutuhkan 1,8 juta ton per tahun.

    90% kami pakai kedelai impor, bukan pasokan memang kurang. Selain itu, karena kelemahan kedelai lokal adalah masalah standar, karena perbandingannya kalau pakai impor 1kg bisa jadi 1,8 kg tempe, sedangkan untuk lokal hanya bisa jadi 1,5 kg, katanya.

    Pihaknya mengakui, harga kedelai lokal memang lebih murah, dan menguntungkan pengrajin. Akan tetapi dari sisi petani sungguh tidak menguntungkan, maka dari itu hasil panen kedelai juga minim.

    Gakoptindo menilai, andai saja Peraturan Presiden No 32/2013 tentang Penugasan Kepada Perusahaan Umum Bulog Untuk Pengamanan Harga dan Penyaluran Kedelai diimplementasikan penggunaan kedelai lokal akan terdongkrak.

    Dua minggu lalu Presiden juga sudah memberikan instruksi untuk memberikan jalan terbaik bagi petani dan pengrajin. Kami pikir implementasi dari Perpres tersebut dapat dijalankan, tambahnya.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Animal Crossing dan 9 Aplikasi Makin Dicari Saat Wabah Covid-19

    Situs Glimpse melansir peningkatan minat terkait aplikasi selama wabah Covid-19. Salah satu peningkatan pesat terjadi pada pencarian Animal Crossing.