Punya Tanggungan? Ini Tips Atur Keuangan Biar Tidak Tekor

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi keuangan. TEMPO/Subekti

    Ilustrasi keuangan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Setiap pasangan yang menikah pasti ingin membangun keluarga yang ideal. Suami dan istri bahu membahu mewujudkan berbagai impian indah yang diciptakan bersama. Namun, tak sedikit pasangan suami istri yang masih harus berbagi penghasilan mereka untuk membiayai orang-orang terdekat.

    Di Indonesia, sudah pemandangan biasa jika ada seorang anak membiayai hidup orang tuanya yang tak lagi berpenghasilan. Selain orang tua, seorang anak yang sudah mapan kerap harus menanggung pula biaya hidup adik-adiknya. Selama masih melajang, hal semacam itu mungkin saja tidak akan menjadi beban.

    Lain lagi ceritanya apabila sudah berumah tangga. Ada kebutuhan-kebutuhan berbeda yang belum muncul ketika masih lajang. Tugas untuk membiayai hidup orang tua atau adik tak bisa ditinggalkan, sementara penghasilan belum juga meningkat di tengah kebutuhan yang bertambah.

    "Hal-hal yang berkaitan dengan keuangan sebaiknya dibahas sebelum menikah," kata perencana keuangan dari Janus Financial, Dwita Ariani, kepada Bisnis. Untuk menghindari masalah, idealnya sebelum menikah, bicarakan dengan pasangan secara terbuka soal gaji, hutang, hingga tanggungan yang masih dimiliki.

    Seharusnya, kata Dwita, sebelum menikah pasangan sudah saling tahu jika memang masing-masing masih memiliki tanggungan sehingga tidak akan kaget. Karena, idealnya pasangan yang berniat menikah maka sudah mengenal dan bertemu dengan orang tua masing-masing dan tahu kondisinya.

    Setelah memahami kondisi yang ada, harus ada komitmen diantara pasangan. Apakah setuju jika setelah menikah pasangannya masih menanggung beban tersebut? Jika setuju, alokasikan dana khusus dan seharusnya tak menjadi masalah karena itu merupakan pengeluaran rutin saat masih lajang.

    Jika pasangan tidak terbuka dan hal terkait tanggungan dan baru ketahuan setelah menikah, berhati-hatilah. Untuk membagi prioritas, bicarakan dengan pasangan tujuan bersama. Tujuan apa yang ingin dicapai bersama. Ingat, penuhi kebutuhan pokok terlebih dulu setelah itu baru mengalokasikan untuk membiayai hidup orang lain.

    Untuk mencegah terjadi masalah berkepanjangan, buat juga komitmen yang jelas dengan orang yang ditanggung. Misalnya saat membiayai adik, buat kesepakatan dengannya sampai kapan harus disubsidi? Sampai lulus sekolah? Atau kapan? Yang terpenting dalam menghadapi situasi semacam ini adalah komunikasi.

    Jika harus menanggung orang tua, misalnya, komunikasikan dengan saudara yang lain agar mau bekerja sama menanggung biaya hidup orang tua. Jangan lupa siapkan juga asuransi kesehatan untuk orang tua dan  tentukan siapa yang membayar preminya.

    Komunikasikan juga secara terbuka dengan orang tua kondisi keuangan yang sebenarnya agar orang tua mengerti dan tidak banyak menuntut. Menambah sumber pendapatan dapat menjadi pilihan yang bagus jika memang dengan penghasilan saat ini masih belum memenuhi seluruh kebutuhan.

    BISNIS.COM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?