Ketersediaan Lahan Hambat Realisasi Industri Garam NTT

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Garam yang telah dipanen di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, 15 Mei 2015. Kualitas garam tergantung pada cuaca, semakin panas cuacanya maka hasil garam yang didapat juga semakin bagus dan banyak. TEMPO/Johannes P. Christo

    Garam yang telah dipanen di Pantai Kusamba, Klungkung, Bali, 15 Mei 2015. Kualitas garam tergantung pada cuaca, semakin panas cuacanya maka hasil garam yang didapat juga semakin bagus dan banyak. TEMPO/Johannes P. Christo

    TEMPO.CO, Jakarta - Kunci realisasi industri garam di Nusa Tenggara Timur ada pada bupati setempat, di mana industri tersebut dapat masuk setelah ketersediaan lahan di daerah yang potensial untuk membangun industri garam terpenuhi.

    "Oleh karena itu, kami minta agar kepala daerah dapat mempercepat proses penyelesaian lahan. Kalau lahannya selesai, maka industri garam di NTT akan dapat terealisasi," kata Menperin Saleh Husin di Jakarta, Jumat (17 Juli 2015).

    Menperin menegaskan bahwa jika kepala daerah atau bupati menjamin lahannya tersedia, maka para investor akan berbondong-bondong masuk ke wilayah tersebut.

    "Jadi, kendalanya utamanya hanya di lahan. Dan kepala daerah perlu turun tangan," tegasnya.

    Masalah tersebut memang dialami beberapa perusahaan yang ingin membangun industri garam di tanah air.

    Diketahui, beberapa daerah di NTT memang dinilai potensial untuk mengembangkan industri garam, karena memiliki curah hujan yang sangat rendah, bahkan musim kemarau terjadi hampir sepanjang tahun.

    Kondisi tersebut diyakini mampu mendukung perkembangan industri garam di Indonesia, terlebih garam industri, di mana tidak semua daerah memiliki kondisi yang sama.

    Untuk itu, Menperin berharap agar pihak pemerintah daerah setempat mau bekerja sama dalam membangun industri garam nasional.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.