Tren Koreksi IHSG Belum Berakhir  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden RI Joko Widodo berjabat tangan kesejumlah tamu undangan usai membuka Bursa Efek Indonesia secara simbolis  (BEI) di Jakarta, Jumat 2 Januari 2015. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,13 persen (6,84 poin) ke level 5.233,79 pada perdagangan perdana. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden RI Joko Widodo berjabat tangan kesejumlah tamu undangan usai membuka Bursa Efek Indonesia secara simbolis (BEI) di Jakarta, Jumat 2 Januari 2015. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 0,13 persen (6,84 poin) ke level 5.233,79 pada perdagangan perdana. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri gerak negatifnya pada akhir pekan lalu akibat faktor kenaikan teknis di lantai bursa. Menurut Kepala Riset Panin Sekuritas Purwoko Sartono, koreksi panjang selama hampir dua pekan membuat saham-saham perbankan berkapitalisasi besar naik secara teknis. "Faktor technical rebound semata yang membuat IHSG berakhir di zona positif," ujarnya.

    Purwoko menambahkan, lantaran koreksi panjang pula kondisi jenuh jual melanda bursa saham. Investor, yang memanfaatkan situasi harga-harga yang sudah terlampau murah, mengambil peluang mengakumulasi kepemilikan saham dengan melakukan aksi beli.

    Meski demikian, akibat penguatan spekulasi percepatan penaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Fed's Rate), ia ragu laju positif IHSG akan berlanjut. Imbal hasil Fed's Rate, yang praktis bakal lebih menarik, membuat sebagian investor asing mulai bersiap mengalihkan portofolionya dari aset-aset berisiko. "Karena Fed's Rate, aksi jual asing berpotensi berlanjut," katanya.

    Apalagi data pertumbuhan tenaga kerja AS (non-farm payrolls) terbaru diketahui naik secara signifikan menjadi 280 ribu pekerja. Angka yang memberi petunjuk soal kinerja pemulihan ekonomi AS memang telah berjalan konsisten, sehingga membuat pasar yakin kenaikan Fed's Rate hanya tinggal menunggu waktu.

    Purwoko pun menyarankan investor tidak terburu-buru memborong saham. Sebab aksi jual asing yang masih terus terjadi memberi sinyalemen IHSG masih rentan terkoreksi.

    Hari ini, Senin, 8 Juni 2015, IHSG diprediksi masih akan tertekan pada level 5.070-5.125. Indeks Dow Jones, yang ditutup terkoreksi 56,12 poin pada akhir pekan lalu, menambah kuat peluang koreksi bursa saham dalam negeri. Aksi beli, menurut Purwoko, hanya layak ditujukan untuk saham-saham komoditas, baik pertambangan maupun perkebunan. "TINS (Timah) dan BWPT (BW Plantation) boleh diperhatikan." 

    Pada perdagangan pagi ini, IHSG turun 42,7 poin (0,84 persen) menjadi 5.057,88.  Saham-saham perbankan, seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank BRI (BBRI), Bank BNI (BBNI), dan Bank BCA (BBCA), menjadi pemberat indeks. BMRI turun 225 poin (2 persen) menjadi Rp 10.450 per lembar dan BBNI turun 150 poin (2 persen) menjadi Rp 6.075 per lembar. 

    PDAT | MEGEL JEKSON | EFRI R.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.