Beras Terindikasi Sintetis Ditemukan di Gunung Kidul  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Bekasi Rahmat Effendi menunjukkan contoh beras plastik oplosan usai menggelar jumpa pers di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Walikota Bekasi Rahmat Effendi menunjukkan contoh beras plastik oplosan usai menggelar jumpa pers di Kantor Walikota Bekasi, Jawa Barat, 21 Mei 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Mengah Daerah Istimewa Yogyakarta menerima laporan dari beras yang terindikasi mengandung sintetis dari masyarakat di Kecamatan Rongkop, Gunung Kidul.

    Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM DIY, Riyadi Ida Bagus, mengatakan tim dari pemerintah daerah ini telah mengecek beras yang diduga berbahan plastik di Gunung Kidul pada Sabtu, 23 Mei 2015 . Tim memeriksa sampel beras bermerk Matahari dan Raja Lele dari tampilan fisik beras. Petugas juga memasak beras untuk memastikan beras itu asli atau mengandung plastik. “Hasilnya beras itu asli,” kata Riyadi saat dihubungi, Ahad, 24 Mei 2015.

    Riyadi meminta masyarakat tidak resah terhadap isu beredarnya beras plastik di Bekasi, Jawa Barat. Tapi, ia meminta masyarakat tetap waspada dan melaporkan ke aparat pemerintah bila menemukan beras yang mencurigakan. Tim Pemerintah akan terus memantau untuk memastikan tidak adanya beras plastik yang ada di daerah ini.

    Mereka akan terus memantau sejumlah pasar tradisional, seperti pasar Beringharjo, Kranggan, dan Demangan. Tiga pasar ini secara rutin dipantau petugas untuk melihat perkembangan harga sejumlah komoditas, satu di antaraya beras. Di kabupaten dan kota, pemantauan juga dilakukan serentak. Guna memastikan keakuratan beras asli atau tidak, tim melibatkan Badan Pengawas Obat dan Makanan.

    Riyadi mengatakan masyarakat bisa mengenali ciri fisik beras asli dan beras berbahan sintetis. Satu di antaranya adalah beras asli ketika dicuci airnya berwarna keruh. Sedangkan, beras sintetis bila dicuci air bekas cuciannya berwarna bening.

    Sebelumnya, beredarnya beras plastik di Bekasi membuat konsumen was-was sehingga sebagain dari mereka memilih mendatangi petani secara langsung untuk memperoleh beras. Di Sleman misalnya, sejumlah orang beralih dari membeli beras di supermarket dan pasar ke petani organik.

    Ketua Kelompok Tani Catur Sari Kabupaten Sleman, Johan Arifin, mengatakan permintaan beras organik melonjak ketika beras berbahan plastik beredar di Bekasi, Jawa Barat. Itu terjadi pada agen beras yang biasa mengambil beras produksi Kelompok Tani Catur Sari.

    Johan menghitung setiap agen beras organik kini rata-rata melayani 150 hingga 250 kilogram beras per pekan. Sedangkan, kelompok tani Catur Sari setidaknya bisa menjual 6 ton beras organik setiap pekan. Sebelum beras plastik beredar, setiap agen beras hanya melayani 50 hingga 100 kilogram. “Masyarakat banyak yang takut dan pindah membeli beras organik,” kata Johan.

    SHINTA MAHARANI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Protokol PSBB Masa Transisi di DKI Jakarta, Ada Rem Darurat

    Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan PSBB Masa Transisi mulai 5 Juni 2020. Sejumlah protokol harus dipatuhi untuk menghindari Rem Darurat.