Tiket Kereta Mudik ke Jakarta Masih 70 Persen

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah calon penumpang antre mencetak tiket kereta api di loket Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 11 Mei 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Sejumlah calon penumpang antre mencetak tiket kereta api di loket Stasiun Pasar Senen, Jakarta, 11 Mei 2015. TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO , Jakarta: Tiket kereta mudik lebaran tujuan Surabaya-Jakarta baru laku 70 persen dari total tiket yang disediakan PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Padahal KAI telah menyiapkan sekitar 39 ribu tiket kereta per hari untuk mengantisipasti lonjakan penumpang.

    Kepala Humas PT. KAI Daerah Operasional 8 Surabaya, Sumarsono menjelaskan bahwa di saat mudik lebaran nanti tiket untuk tujuan Surabaya-Jakarta memang belum sepenuhnya ludes. Sebaliknya untuk tujuan Jakarta-Surabaya 100 persen telah laku terjual.

    “Penumpang kebanyakan mudik dari Jakarta ke Jawa Tengah, terus ke Jawa Timur,” tuturnya saat ditemui Tempo, Senin, 18 Mei 2015. Dia menyanggah jika sisa 30 persen tiket yang belum terjual itu dampak dari inflasi kenaikan tiket kereta api kelas ekonomi.

    Karena itu dia mengimbau agar calon penumpang arus balik segera memesan. “Untuk penjualan tiket arus mudik kita mulai buka 11 Mei lalu dan sudah ludes. Sedangkan arus balik, pada hari ini,” tuturnya.

    Ia menambahkan, PT KAI sudah menyiapkan 132 kali perjalanan dengan total 66 kereta api pada puncak mudik mulai 10 Juli. Bahkan KAI juga menyiapkan 6 kereta tambahan dan beberapa gerbong di masing-masing lokomotif.

    Enam kereta itu di antaranya adalah Gajayaman tujuan Malang-Jakarta, Mata Remaja kelas ekonomi tujuan Malang-Jakarta, Sancaka kelas bisnis tujuan Surabaya Yogyakarta, Pasundan kelas ekonomi tujuan Surabaya-Bandung, Sembrani kelas eksekutif tujuan Surabaya-Jakarta, dan Kertajaya kelas ekonomi tujuan Surabaya-Jakarta.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.