Warga Medan Lebih Senang Belanja Ketimbang Pikirkan Pensiun  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang jamaah melintas di dekat kubah yang sedang dicat ulang di Masji Akbar Al Mashun di Medan, Sumatera Utara, 24 Juni 2014. AP/Binsar Bakkara

    Seorang jamaah melintas di dekat kubah yang sedang dicat ulang di Masji Akbar Al Mashun di Medan, Sumatera Utara, 24 Juni 2014. AP/Binsar Bakkara

    TEMPO.CO, Jakarta - Masyarakat Medan mengaku belum mempersiapkan masa pensiun. Walaupun mereka sudah mulai berinvestasi, dana yang diinvestasikan digunakan untuk mempertahankan gaya hidup saat ini, seperti melancong dan membeli barang mewah. Bahkan, ketika memasuki masa pensiun, mereka berharap dapat mempertahankan gaya hidup yang sama.

    “Berbeda dengan investor di Jakarta dan Surabaya, masyarakat Medan belum menyiapkan masa pensiunnya dengan baik,” kata Chief of Employee Benefits PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Nur Hasan Kurniawan, dalam pemaparan tertulis mengenai hasil riset Manulife Investor Sentiment Index (MISI) Senin, 23 Maret 2015. MISI didasarkan pada 500 wawancara tatap muka dengan responden dari kalangan investor kelas menengah-atas dan berusia 25 tahun ke atas.

    Investasi mereka saat ini, ucap Nur, hanya digunakan untuk membiayai gaya hidup. Fakta ini cukup mengkhawatirkan. Apalagi tiga pengeluaran masa pensiun terbesar adalah 41 persen untuk keperluan rumah tangga, 29 persen untuk biaya kesehatan dan pengobatan, dan 15 persen untuk membantu anak.

    Nur Hasan mengingatkan bahwa kondisi ekonomi yang baik saat ini tidak mungkin berlangsung terus-menerus. Tingkat inflasi, perubahan harga minyak, kenaikan tingkat suku bunga, dan potensi berkurangnya investasi dan aliran modal akibat penguatan dolar AS menghadirkan tantangan yang lebih berat. “Tantangan tersebut harus dikelola dengan baik,” ia berucap.

    EFRI RITONGA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    6 Rumor yang Jadi Nyata pada Kelahiran GoTo, Hasil Merger Gojek dan Tokopedia

    Dua tahun setelah kabar angin soal merger Gojek dengan Tokopedia berhembus, akhirnya penggabungan dua perusahaan itu resmi dan lantas melahirkan GoTo.