Rupiah Menguat, Seberapa Kuat Intervensi BI ?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    Seorang karyawan money changer menghitung uang kertas Rupiah, di Jakarta, 15 Desember 2014. Akibat anjloknya Rupiah, sebagian pihak menganggap Rupiah adalah mata uang sampah, namun sebagian pihak memprediksi, pekan depan Rupiah akan membaik. Adek Berry/AFP/Getty Images

    TEMPO.CO, Jakarta - Upaya stabilisasi pasar keuangan berhasil membuat rupiah terlepas dari cengkeraman dolar. Dalam transaksi di pasar uang, Rabu, 17 Desember 2014, rupiah menguat 58 poin (0,45 persen) ke level 12.667 per dolar Amerika Serikat. Pergerakan rupiah berlawanan dengan mayoritas mata uang Asia yang masih melemah terhadap dolar AS. (Baca: BI Turun Tangan, Rupiah Mulai Jinak)

    Ekonom dari PT BNI Securities Heru Irvansyah mengatakan langkah stabilisasi pasar keuangan yang dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia mampu meredam gejolak rupiah. Menurut Heru, BI telah melakukan intervensi di pasar uang, salah satunya dengan membeli obligasi surat berharga negara (SBN) sebesar Rp 1,7 triliun di pasar sekunder. (Baca juga: Rabu Sore, Rupiah Jadi Mata Uang Terkuat di Asia.)

    Selain itu, pernyataan pemerintah yang akan memanfaatkan momentum pelemahan rupiah dengan menggenjot ekspor juga direspons positif oleh pasar. "Intervensi bank sentral mengguyur pasar dengan likuiditas, membuat rupiah menguat cukup signifikan," kata Heru.

    Namun, Heru menilai intervensi bank sentral hanya mampu menjaga rupiah untuk sementara. Sebab, jumlah likuiditas yang dikucurkan BI terbatas. Bila intervensi dilakukan secara terus-menerus, posisi cadangan devisa terancam. "Di lain pihak, penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia sulit dibendung," ujar Heru. (Baca: Cinta Rupiah, BI Minta Pengusaha Tolak Dolar)

    Menurut Heru, intervensi BI hanya mampu menstabilkan rupiah dari tekanan sifatnya jangka pendek. Kebutuhan akan dolar untuk pembayaran impor, utang, dan repatriasi keuntungan adalah faktor musiman yang hanya terjadi pada akhir tahun, sehingga perlu diambil langkah intervensi. Namun tekanan yang berasal dari eksternal sifatnya jangka panjang dan hanya bisa diatasi apabila ekonomi membaik dan neraca berjalan sudah terhindar dari defisit. (Baca: Jokowi-JK Janjikan Insentif Jaga Rupiah)

    Posisi dolar masih kuat karena perlambatan ekonomi dunia dan turunnya harga minyak mentah. Perlambatan ekonomi akan mengurangi pendapatan, sehingga mengakibatkan penarikan dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. "Setelah dana-dana itu ditarik, pelaku pasar akan melakukan lindung nilai atas aset-asetnya ke dalam bentuk dolar AS," kata Heru.

    M. AZHAR           

    Berita Terpopuler
    Wajah Ical Lenyap dari Markas Golkar 

    Strategi Jokowi Atasi Pelemahan Rupiah

    Beda Cara Jokowi dan SBY Meredam Rupiah Jeblok  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Enam Poin dalam Visi Indonesia, Jokowi tak Sebut HAM dan Hukum

    Presiden terpilih Joko Widodo menyampaikan sejumlah poin Visi Indonesia di SICC, 14 Juli 2019. Namun isi pidato itu tak menyebut soal hukum dan HAM.