BI: Gara-gara BBM, Inflasi Meleset dari Target

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    Seorang pedagang menata bahan makanan jualannya di Pasar Senen, Jakarta, Senin (2/1). ANTARA/Zabur Karuru

    TEMPO.CO, Jakarta - Kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi menyebabkan laju inflasi tahun ini meleset dari target yang telah ditetapkan. Bank Indonesia memprediksi inflasi pada akhir 2014 antara 7,7 dan 8,1 persen. "Lebih tinggi dari target sebelumnya, 4,5 persen plus-minus 1 persen," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Hendar di Bandung, Senin, 8 Desember 2014.

    Meski demikian, Hendar menyatakan tekanan inflasi akan mereda tahun depan. "Kami memperkirakan angka inflasi bulanan akan segera kembali ke koridor target pada Februari 2015, atau tiga bulan sejak impelementasi kenaikan harga BBM," katanya. (Baca : Kenaikan Inflasi Lebih Rendah dari Perkiraan BI)

    Di sisi lain, dalam jangka panjang, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi memberi hal positif. "Terutama mengurangi defisit transaksi berjalan dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui realokasi anggaran subsidi BBM," kata Hendar. (Baca : BI: Kenaikan Harga BBM Kerek Inflasi November)

    Dia mengklaim, hingga triwulan III, stabilitas keuangan tetap terjaga meski kondisi moneter ketat. Rasio kredit macet perbankan masih rendah dan berada pada kisaran 2,3 persen per September 2014. Rasio kecukupan modal perbankan (CAR) tercatat 19,4 persen di triwulan III, sementara kredit perbankan tumbuh 13,2 persen.

    AHMAD FIKRI

    Terpopuler:
    Kubu Ical: Peserta Munas Ancol Diberi Rp 500 juta
    Jokowi Tolak Sahkan Golkar Kubu Ical dan Agung
    Usul BPJS Jadi Kartu Subsidi, Anang Dibilang Lucu
    Christine Hakim: Ibarat di Film, Ahok Peran Utama


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Arti Bilangan R(0) dan R(t) untuk Menerapkan New Normal

    Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Suharso Monoarfa mengatakan bahwa suatu daerah dapat melaksanakan New Normal bila memenuhi indikator R(0).