Inflasi Rendah, Saatnya Berburu Saham?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pegawai Bursa Efek Indonesia mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, 20 Oktober 2014. ANTARA/OJT/Dyah Dwi Astuti

    Pegawai Bursa Efek Indonesia mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, 20 Oktober 2014. ANTARA/OJT/Dyah Dwi Astuti

    TEMPO.CO, Jakarta - Rendahnya dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi terhadap inflasi membuat pelaku pasar berani menambah koleksi saham. Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup menguat 14,4 poin (0,28 persen) ke level 5.164,288 pada Senin 1 Desember 2014. (Baca juga: Harga Minyak Dunia Merosot ke Titik Terendah)

    Indeks bergerak menguat di tengah pergerakan bursa regional Asia yang cenderung negatif. Analis dari PT Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, mengatakan data inflasi November yang relatif di bawah ekspektasi berhasil mendorong gairah beli pelaku pasar. Investor awalnya memperkirakan inflasi pada November akan berada di kisaran 2 persen akibat kenaikan harga BBM bersubsidi. Namun ternyata inflasi berkisar 1,5 persen. "Investor pun melanjutkan akumulasi saham," kata Kiswoyo. (Baca juga: Inflasi November 2014 Sebesar 1,5 Persen)

    Laju inflasi di bawah ekspektasi menunjukkan bahwa efek kenaikan harga BBM tidak langsung menggoyang pasar. Meski ada kekhawatiran lonjakan inflasi baru akan terjadi mulai Desember hingga Januari 2015, investor yakin pemerintah mampu meredam dampaknya dan mengalokasikan dana subsidi ke sektor infrastruktur.

    Menurut Kiswoyo, optimisme pasar terhadap pasar saham domestik masih bagus. Hal ini terlihat dari naiknya harga saham-saham penggerak indeks, seperti Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, dan Telkom. Kenaikan harga saham berkapitalisasi besar biasanya diikuti oleh tren kenaikan IHSG. "Bila tren kenaikan berlanjut, IHSG akan kembali menembus level 5.200 dalam waktu dekat dan 5.300 saat tutup tahun," ujar dia. Baca pula: Terimbas BBM, Inflasi Januari Masih Akan Tinggi)

    Dia menambahkan, setidaknya ada dua hal yang masih menjaga optimisme pasar terhadap IHSG. Pertama, nilai dana asing yang masuk pasar domestik masih terus meningkat. Kedua, pencabutan subsidi BBM ke sektor produktif akan kembali menggerakkan ekonomi. Jika  pengalihan subsidi dimanfaatkan untuk belanja infrastruktur, ekonomi Indonesia pada 2015 bisa tumbuh ke level 5,8 persen.

    Hari ini, Selasa 2 Desember 2014, Kiswoyo memperkirakan indeks bergerak di level 5.140-5.200 dengan kecenderungan konsolidasi. Beberapa saham, seperti perbankan, konstruksi, dan properti, masih bisa diburu meski valuasinya sudah cukup mahal. "Sebagai alternatif, perhatikan saham-saham sektor semen yang posisinya masih relatif murah," kata dia.

    M. AZHAR

    Berita Terpopuler
    Media Malaysia Berbalik Puji Jokowi  

    Jokowi Tampak Mulai Kedodoran Soal Hukum 

    Fahrurrozi, Gubernur Jakarta Tandingan Versi FPI 

    Di Balik Kehadiran Prabowo Cs di Munas Ical

    Kecewa, Munas Golkar Melahirkan Lima Partai Baru


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Peranan Penting Orang Tua dalam Kegiatan Belajar dari Rumah

    Orang tua mempunyai peranan yang besar saat dilaksanakannya kegiatan belajar dari rumah.