8 Strategi Investasi Saham Gaya Warren Buffett  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warren Buffett, 81 tahun, merupakan ketua dewan direksi dan CEO Berkshire Hathaway dengan kekayaan sebesar $44,7 miliar (Rp 408,2 triliun). Warren Buffett adalah CEO terkaya kedua dunia dan orang terkaya ketiga dunia. Perusahaannya termasuk American Express, Coca-Cola, Costco, dan Moody's. Buffett pernah menjadi loper koran di Omaha, Nebraska pada 1940an dan dari situ ia menghasilkan $ 5000 (Rp 45,6 juta) sehingga ia bisa meluncurkan perusahaan investasi yang kemudian 'melahirkan' Berkshire. REUTERS/Jim Urquhart

    Warren Buffett, 81 tahun, merupakan ketua dewan direksi dan CEO Berkshire Hathaway dengan kekayaan sebesar $44,7 miliar (Rp 408,2 triliun). Warren Buffett adalah CEO terkaya kedua dunia dan orang terkaya ketiga dunia. Perusahaannya termasuk American Express, Coca-Cola, Costco, dan Moody's. Buffett pernah menjadi loper koran di Omaha, Nebraska pada 1940an dan dari situ ia menghasilkan $ 5000 (Rp 45,6 juta) sehingga ia bisa meluncurkan perusahaan investasi yang kemudian 'melahirkan' Berkshire. REUTERS/Jim Urquhart

    TEMPO.CO, Jakarta - Warren Buffett dikenal sebagai salah satu investor terhebat sepanjang sejarah bursa saham modern. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan investasi Berkshire Hathaway Inc kini bernilai lebih dari US$ 300 miliar dengan keuntungan untuk dirinya sendiri sebesar US$ 60 miliar.

    Banyak investor yang mencoba mengikuti strategi investasi orang terkaya keempat di dunia itu. Memahami prinsip investasi Buffett, investor tidak perlu mengeluarkan miliaran dolar Amerika Serikat untuk membeli sebuah perusahaan makanan, alat-alat rumah tangga, atau perusahaan rel kereta. 

    Berdasarkan analisis situs 24/7 Wall Street, ada beberapa strategi yang dapat membantu investor bursa "biasa" untuk berinvestasi layaknya Buffett. Strategi-strategi ini tidak bertujuan mengejar langkah Buffett, melainkan mendorong investor membangun kekayaan dalam jangka panjang  dan membantu beradaptasi dengan pasar. 
     
    Buffett mempertimbangkan dengan matang fundamental perusahaan yang dia beli. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan pilihannya tidak mudah terguncang ketika memasuki masa sulit. Ia juga mempertimbangkan tren industri untuk lebih dari satu dekade ke depan.

    Masa kepemilikannya atas saham sebuah perusahaan termasuk cukup lama. Di dalam portofolio Buffett, kita bisa melihat Coca-Cola,  American Express Co, Wells Fargo & Co, dan International Business Machines Corp. 

    Buffett sudah menjadi investor sejak lama untuk perusahaan-perusahaan ini. Kepemilikan sahamnya dalam empat perusahaan tersebut mengambil porsi 56 persen dari total nilai kekayaannya yang sebesar US$ 116 miliar per 31 Maret 2014.
     
    Berikut ini delapan strategi yang bisa dicontek  investor agar dapat berinvestasi layaknya "sang maestro":

    1. Fokus pada apa yang Anda ketahui dan yang mudah Anda pahami
    Rahasia sukses Buffett utamanya karena ia kukuh pada apa yang diketahuinya. Bidang utamanya adalah asuransi, industri, peralatan serbaguna, dan rel kereta. Perusahaan terbesar yang dimilikinya begitu banyak dikenal, seperti American Express, Coca-Cola, Wells Fargo, dan IBM. Juga Heinz, GEICO, Fruit of the Loom, Netjets, serta selusin lebih perusahaan perhiasan, furnitur, dan retail.

    Prinsip Buffett ialah: berinvestasi pada bidang yang Anda minati, ketahui, dan berfokus pada produk-produk yang Anda gunakan. Berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang terhubung dengan profesi awal Anda juga cara lain yang jitu. 

    2. Memiliki pandangan jangka panjang
    Buffett pernah bekata, kepemilikan sahamnya di sebuah perusahaan adalah untuk selamanya. Ia  pertama kali berinvestasi di Coca-Cola pada 1988, dan tak pernah menjual satu lembar pun sahamnya setelah itu. Buffett juga masih memegang American Express, meski telah melewati masa-masa sulit. 

    3. Berinvestasi pada nilai dan harga yang tepat
    Buffett percaya pada investasi nilai dan ia adalah penganut teknik valuasi Benjamin Graham. Buffett biasanya menelaah perusahaan-perusahaan dengan kepemilikan utang yang rendah dan return of equity yang tinggi. Buffett menyukai investasi di perusahaan yang menawarkan dividen dan buyback saham. 

    Untuk waktu lama, selain IBM, Buffett tidak pernah mengejar saham atau perusahaan teknologi. Sebab, menurut investor asal Kota Omaha, Amerika Serikat ini, perusahaan teknologi berubah sangat cepat, memiliki rekam jejak yang pendek, dan memiliki valuasi yang mahal. 

    4. Hanya beinvestasi pada manajemen yang bersih
    Buffett tidak beinvestasi di perusahaan dengan manajemen yang belum teruji. Bahkan, ketika membeli sebuah perusahaan yang gulung tikar, ia memilih agar manajemennya juga ikut. Buffett pernah mengatakan, "Butuh waktu 20 tahun untuk membangun sebuah reputasi, dan lima menit untuk menghancurkannya." 

    5. Bertindak ekstrem pada waktu yang tepat 
    Selama masa depresi besar, ia mengambil strategi, "Takut ketika orang lain serakah, dan serakah ketika orang lain takut." Ini berarti berinvestasilah dengan semangat ketika pasar sedang remuk. Rekam jejak Buffett terbukti saat menyelamatkan perusahaan-perusahaan yang terkena resesi, seperti Bank of America, Goldman Sachs, General Electric, dan Dow Chemical.

    6. Tahu kapan membeli
    Tip Buffet adalah membeli saham secara perlahan dan teratur dari waktu ke waktu. Contohnya, ia telah secara konsisten membeli saham Wells Fargo sejak masa resesi dan menambahkan secara bertahap kepemilikannya. Ia tidak senang memborong saham pada sekali waktu.

    7. Menjaga dana cadangan 
    Seorang investor harus menjaga dana cadangan. Dana cadangan ini membuat investor dapat mengejar peluang investasi yang sayang untuk dilewatkan--misalnya ketika pasar jatuh, sekaligus menyediakan bantalan bagi hal-hal yang tidak terduga. Dana cadangan inilah yang selalu dimasukkan Buffett pada laporan tahunannya.

    8. Ketahui kapan Anda membuat kesalahan
    Terkadang kesalahan terjadi di luar kehendak kita. Buffett pernah bercanda tentang bagaimana ia berharap seandainya  idak pernah menjual sahamnya yang besar di Walt Disney. Berkshire juga pernah memiliki sebuah saham bernilai miliaran dolar AS di Procter & Gamble (P&G) melalui merger antara P&G dan Gillette. Namun Buffett merasakan bahwa waktu telah berubah dan ia pun akhirnya memutuskan untuk melepas P&G.
     
    RIDHO JUN PRASETYO

    Berita utama:
    DKP: Prabowo Rampas Kemerdekaan Orang Lain
    Ahok Mulai Blusukan ala Jokowi
    Ini Alasan Prabowo Dipecat sebagai Perwira


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lakon DPR, Jokowi, dan MK dalam Riwayat Akhir Kisah KPK

    Pada 4 Mei 2021, Mahkamah Konstitusi menolak uji formil UU KPK. Dewan Perwakilan Rakyat dan Presiden Jokowi juga punya andil dalam pelemahan komisi.