Dahlan: Ada yang Ingin Saya Dicopot dari Kabinet

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara, Dahlan Iskan, menyatakan ada pihak-pihak yang tidak menyukai dirinya dan berharap ia dicopot dari kabinet.

    "Ada yang meminta Pak Presiden untuk me-reshuffle kabinet dan menurunkan saya sebagai menteri," kata Dahlan di Jakarta, Rabu 31 Oktober 2012.

    Sayangnya, ia enggan memberi tahu siapa orang yang dimaksud. Mantan Direktur Utama PLN ini juga tak mau membeberkan penyebab dirinya tidak disukai orang tersebut hingga berani meminta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencopotnya dari jabatan Menteri BUMN.

    "Saya tahu siapa," kata Dahlan. Saat ditanya pewarta apakah orang itu adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dahlan hanya tertawa tanpa mengeluarkan pernyataan lebih jelas lagi.

    Ia juga bungkam saat ditanya apakah penyebabnya karena kisruh dengan DPR akibat kasus dugaan suap DPR-BUMN. "Pokoknya saya tahu," kata Dahlan.

    Menurut Dahlan, Presiden Yudhoyono tidak terlihat menanggapi permintaan perombakan kabinet tersebut. Ia mengatakan, Presiden tidak memberikan reaksi apa-apa atas permintaan tersebut.

    Isu reshufle kabinet mulai memanas seiring dengan tegangnya hubungan Dahlan dengan DPR. DPR menuntut Dahlan tidak sesumbar dan membuktikan soal benar tidaknya anggota dewan yang meminta suap kepada sejumlah BUMN.

    RAFIKA AULIA

    Berita terkait:
    Djoko Susilo Benarkan Ada Upeti untuk Senayan
    Di Senayan, Ahok Pernah Ditawari Upeti

    Soal Upeti, Dulu Anggota DPR Sopan-Sopan

    Perwira TNI Juga Ikut Setor Upeti ke DPR

    Lily Wahid Sebut Upeti di DPR Seperti Kentut

    Penyertaan Modal Negara Jadi Modus Upeti BUMN



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.