Pengusaha Tuduh Bank Mau Ambil Untung Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Pengusaha mengkritik perbankan yang terlalu tinggi menetapkan selisih suku bunga untuk mendapatkan keuntungan. Pasalnya, tingginya suku bunga bisa menghambat pertumbuhan sektor riil.

    Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan spread (rentang) suku bunga bank saat ini sangat tinggi dibandingkan dengan suku bunga acuan Bank Indonesia atau BI Rate yang mencapai 7,25 persen.

    "Sebelumnya spread antara suku bunga pinjaman dengan BI Rate hanya empat persen," kata Sofjan di Jakarta Convention Centre, Rabu (13/5). Padahal di tengah kondisi sulit, perusahaan memerlukan perbankan agar bisa bertahan.

    Hal itu ditegaskan Ketua Umum Real Estate Indonesia Teguh Satria. Menurut dia, permasalahan yang dihadapi pengusaha menyebabkan keadaan semakin sulit. Sebab, kalau tidak ada kredit, pengusaha konstruksi tidak dapat menyelesaikan bangunan.

    "Akhirnya tidak menciptakan penjualan yang berujung pada kredit macet," ujarnya. Menurut Teguh, kejadian yang sama terjadi di sisi konsumen. Bank memperketat pemberian kredit konsumsi dengan memperbanyak persyaratan perbankan yang harus dipenuhi.

    Tudingan perbankan enggan menurunkan suku bunga kredit dibantah Executive Vice President Finance Coordinator Pahala N. Mansyuri. Ia berpendapat, perbankan sudah menurunkan bunga kredit yang ditandai dengan penurunan pendapatan bunga bersih.

    Tingginya suku bunga bank saat ini lebih disebabkan pada keharusan perbankan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia seperti kecukupan modal. "Penurunan pendapatan bisa mempengaruhi kecukupan modal. Skarang ini rasio modal bank di bawah 20 persen padahal sebelumnya selalu berada di atas itu," ujar Pahala.

    EKO NOPIANSYAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.