Kemendag Ingatkan Pengusaha Besi dan Baja untuk Waspadai Dampak Pemberlakuan CBAM

Seorang pekerja di proses pembuatan baja di Pabrik Krakatau Steel, Cilegon, 26 November 2014. Krakatau Steel bisa memproduksi pipa untuk kepentingan sektor migas dengan kapasitas 115.000 ton/tahun. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Kasan memperingatkan para pelaku usaha sektor besi dan baja agar mengantisipasi pemberlakuan carbon border adjustment mechanism (CBAM).

"Dengan antisipasi sejak dini, diharapkan besi dan baja sebagai produk potensial Indonesia tetap tumbuh ekspornya, baik di pasar Uni Eropa maupun pasar lain di dunia dengan mempertimbangkan isu pengurangan emisi karbon," tutur Kasan melalui keterangan tertulis pada Kamis, 25 Agutus 2022. 

CBAM merupakan pengurangan emisi karbon dengan menambah tarif atau pajak bea masuk terhadap barang impor ke Uni Eropa. CBAM mulai berlaku pada 2026 dan meliputi lima produk utama, termasuk besi dan baja sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia di pasar Uni Eropa. 

Kasan menjelaskan, sebetulnya pemberlakuan CBAM akan dimulai pada rentang 2023-2025 dengan pelaporan jumlah emisi yang terkandung dalam produk tanpa pembayaran pajak karbonnya. Sementara itu mulai 2026, pasar akan memberlakukan pembayaran pajak secara menyeluruh. 

Pada fase pertama, jenis produk yang diberlakukan CBAM ialah aluminium, besi dan baja, semen, pupuk, dan energi listrik. Kemudian pada fase kedua, CBAM diperkirakan akan dikembangkan untuk produk lain yang diduga menghasilkan emisi karbon dari Uni Eropa dan non-Uni Eropa.

Pada 2019 dan 2020, kata Kasan, Cina, Rusia, dan Turki merupakan pemasok terbesar ke Uni Eripa untuk produk besi dan baja, semen, energi listrik, pupuk, dan alumunium. Sehingga, ketiga negara tersebut diprediksi bakal terkena dampak terbesar dari CBAM. Adapun Indonesia menempati peringkat ke-51 sebagai negara asal impor produk CBAM UE pada 2020. 

Lebih lanjut, menurut Kasan, produk besi dan baja memiliki pangsa ekspor paling tinggi jika dibandingkan dengan empat produk lainnya. Pangsa ekspor besi dan baja Indonesia ke Uni Eropa pada 2019 tercatat 10,7 persen dari total pangsa ekspor besi dan baja Indonesia ke dunia. Persentase tersebut menurun pada 2020 dengan pangsa ekspor 7,9 persen dari total ekspor besi dan baja Indonesia ke dunia. 

Ia menuturkan seiring dengan upaya peningkatan ekspor Indonesia terutama besi dan baja ke negara-negara UE, perlu dilakukan identifikasi hambatan perdagangan, baik yang bersifat tarif maupun nontarif, termasuk CBAM. Terlebih, Indonesia diproyeksikan mengalami penurunan ekspor besi baja Indonesia berkaitan dengan penerapan CBAM oleh negara-negara Uni Eropa. 

Adapun Kemendag telah melayangkan protes keras kepada Komisi Eropa melalui surat Menteri Perdagangan pada 14 Januari 2022 silam mengenai CBAM. "Kementerian Perdagangan berkomitmen untuk terus mendukung akses pasar produk asal Indonesia ke negara mitra unggulan. Salah satunya dengan memberikan gambaran kepada pelaku usaha akan dampak CBAM terhadap industri besi dan baja," ujar Kasan.

RIANI SANUSI PUTRI 

Baca: Sri Mulyani Sebut Kuota Pertalite Habis Bulan Depan Jika Subsidi dan Konsumsi Tak Diatur

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Eropa Bakal Dilanda Resesi Musim Dingin, Apa yang Harus Diantisipasi RI?

11 jam lalu

Eropa Bakal Dilanda Resesi Musim Dingin, Apa yang Harus Diantisipasi RI?

Uni Eropa yang bakal dilanda resesi musim dingin dan bisa jadi berdampak ke Indonesia. Apa saja yang harus diantisipasi?


Uni Eropa Akan Cegah Impor Barang Terkait Deforestasi, Termasuk Minyak Sawit

12 jam lalu

Uni Eropa Akan Cegah Impor Barang Terkait Deforestasi, Termasuk Minyak Sawit

Uni Eropa menyetujui undang-undang baru untuk mencegah perusahaan menjual ke pasar Uni Eropa yang terkait dengan deforestasi


Mengulik Dampak Pemberlakuan Batas Harga pada Minyak Rusia

21 jam lalu

Mengulik Dampak Pemberlakuan Batas Harga pada Minyak Rusia

Adanya pembatasan harga atau price cap pada minyak Rusia, yang tidak boleh lebih dari USD 60, bisa berdampak pada output dan inflasi.


Top 3 Tekno Berita Kemarin: Selamat Tinggal Airplane Mode di Eropa

22 jam lalu

Top 3 Tekno Berita Kemarin: Selamat Tinggal Airplane Mode di Eropa

Selain perubahan regulasi dengan Airplane Mode di Eropa, ada juga studi kerusakan otak karena tembakan ala Ferdy Sambo dan dampak Semeru di Jepang.


Rusia Tak Akan Tunduk pada Patokan Harga Minyak dari Uni Eropa dan G7

1 hari lalu

Rusia Tak Akan Tunduk pada Patokan Harga Minyak dari Uni Eropa dan G7

Alexander Novak meyakinkan pihaknya tidak akan tunduk pada patokan harga minyak Rusia yang diberlakukan Uni Eropa dan G7.


Uni Eropa Ajak WTO Gugat Kebijakan Inflasi Amerika

1 hari lalu

Uni Eropa Ajak WTO Gugat Kebijakan Inflasi Amerika

US Inflation Reduction Act (IRA) dianggap Uni Eropa bisa mendiskriminasikan perusahaan asal Eropa


Batas Harga G7 untuk Minyak Rusia Berlaku Mulai 5 Desember 2022

1 hari lalu

Batas Harga G7 untuk Minyak Rusia Berlaku Mulai 5 Desember 2022

Price cap atau batas harga G7 untuk minyak Rusia mulai berlaku pada Senin, 5 Desember 2022, sebagai upaya membatasi kemampuan Moskow untuk membiayai perangnya di Ukraina.


Uni Eropa Izinkan Pasang 5G di Pesawat, 'Airplane Mode' Bisa Ditinggalkan

1 hari lalu

Uni Eropa Izinkan Pasang 5G di Pesawat, 'Airplane Mode' Bisa Ditinggalkan

Penumpang maskapai penerbangan di Uni Eropa tidak perlu mengatur 'Airplane Mode' jika ingin gunakan ponsel selama penerbangan.


Barat Batasi Harga Minyaknya, Rusia Siapkan Tanggapan

2 hari lalu

Barat Batasi Harga Minyaknya, Rusia Siapkan Tanggapan

Rusia tidak akan terima pembatasan harga minyak secara sepihak oleh Barat dan sedang menyiapkan tanggapan.


Barat Batasi Harga Minyak Rusia 60 Dolar AS, Ini Jawaban Moskow

3 hari lalu

Barat Batasi Harga Minyak Rusia 60 Dolar AS, Ini Jawaban Moskow

Rusia menilai batasi harga minyak Rusia 60 dolar AS merupakan bentuk arogansi Amerika Serikat dan sekutunya.