Terpopuler Bisnis: Sri Mulyani Soal Utang, Dampak Pinjol, dan Lulu Hypermarket

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021. Rapat tersebut membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Menteri Keuangan Sri Mulyani saat mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 10 Juni 2021. Rapat tersebut membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta -Berita terpopuler ekonomi dan bisnis sepanjang Minggu, 24 Oktober 2021 dimulai dengan cerita Sri Mulyani bahwa saat ini banyak orang yang secara detail menyoroti utang negara akibat krisis pandemi Covid-19.

    Kemudian informasi Country Head of Corporate Affairs Citibank Indonesia, Puni A. Anjungsari mengatakan proses penjualan bisnis consumer banking Citigroup di Indonesia masih berjalan.

    Selain itu berita Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai masih banyak persepsi yang keliru soal pinjaman online atau pinjol hingga masyarakat tidak mau membayar pinjaman.

    Serta Lulu Group, jaringan peretail raksasa asal Uni Emirat Arab akan ekspansi di Indonesia hingga membuka 20 gerai (Lulu Hypermarket) di Pulau Jawa pada 2022. Berikut adalah ringkasan dari keempat berita tersebut:

    1. Sri Mulyani: Sekarang Semua Orang Ngurusin Utang Negara, It Is Good

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bercerita bahwa hari-hari ini banyak orang yang secara detail menyoroti utang negara akibat krisis pandemi Covid-19. Dia melihat kondisi ini berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya.

    “Sekarang semua orang ngurusin utang negara. Semua orang bicara mengenai itu. It is good bahwa kita punya ownership terhadap keuangan negara,” ujar Sri Mulyani dalam diskusi launching buku Kontan yang digelar secara virtual, Ahad, 24 Oktober 2021.

    Menurut Sri Mulyani, pada krisis 1997 dan 1998, tak banyak pihak yang menaruh perhatian terhadap kondisi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Padahal saat itu utang negara melonjak akibat pemberian dana talangan kepada perbankan-perbankan dan korporasi besar yang kolaps.

    Hampir semua orang, kata Sri Mulyani, melihat peningkatan utang sebagai kondisi “taken for granted” atau hal yang bisa diterima begitu saja. Begitu juga dengan kondisi krisis global 2008-2009. Tak banyak pihak yang memberikan perhatian terhadap APBN kala itu.

    Baca berita selengkapnya di sini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pentingnya Air Putih Setelah Anda Makan

    Makan tentu tak nikmat bila tidak minum air putih setelahnya. Selain nikmat, air putih juga memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan tubuh.

    Dapatkan 2 artikel premium gratis
    di Koran dan Majalah Tempo
    hanya dengan Register TempoID

    Daftar Sekarang (Gratis)