Ekonomi RI Bisa Kena Dampak Jangka Panjang Covid-19, Apa Maksudnya?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga antre pembagian nasi bungkus gratis di kawasan Kuta, Badung, Bali, Rabu, 28 Juli 2021. Aksi berbagi ratusan nasi bungkus gratis tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas antar warga untuk meringankan beban masyarakat yang membutuhkan khususnya di kawasan wisata Kuta yang perekonomiannya terdampak pandemi Covid-19. ANTARA/Fikri Yusuf

    Warga antre pembagian nasi bungkus gratis di kawasan Kuta, Badung, Bali, Rabu, 28 Juli 2021. Aksi berbagi ratusan nasi bungkus gratis tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas antar warga untuk meringankan beban masyarakat yang membutuhkan khususnya di kawasan wisata Kuta yang perekonomiannya terdampak pandemi Covid-19. ANTARA/Fikri Yusuf

    TEMPO.COJakarta - Perekonomian Indonesia diperkirakan bisa mengalami dampak permanen jangka panjang akibat pandemi Covid-19, salah satunya pada tingkat Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB). Menurut Deputi Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Amalia Adininggar, perkembangan PDB sebelum dan setelah krisis ekonomi 1998 bisa jadi pelajaran.

    Amalia mencatat bahwa Indonesia butuh waktu 5 tahun untuk mengembalikan tingkat PDB sebelum krisis 1998. Bahkan sampai saat ini, kata dia, Indonesia belum bisa mengembalikan ke proyeksi PDB jika tidak ada krisis 1998. Dalam proyeksi tersebut, PDB Indonesia saat ini seharusnya bisa 30 persen lebih tinggi.

    "Jadi inilah dampak permanen yang kemungkinan kita bisa juga alami setelah Covid-19 ini, jika tidak lakukan perubahan fundamental," kata Amalia dalam acara 50 Tahun Center for Strategic and International Studies (CSIS) pada Rabu, 1 Agustus 2021.

    Selain pada tingkat PDB, Amalia juga mencatat perkembangan tingkat pengangguran sebelum dan sesudah krisis 1998. Pada 1995, tingkat pengangguran di kisaran angka 5 persen. Lalu meningkat hingga 13 persen pada 2005, atau 7 tahun pasca krisis 1998.

    Tapi pada 2019, Amalia mencatat tingkat pengangguran baru turun ke angka 6 persen. Posisi ini masih lebih tinggi ketimbang kondisi sebelum krisis.

    Terakhir, proyeksi soal pengangguran ini juga sudah disampaikan oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk skala global. Mereka memperkirakan lebih dari 200 juta akan tetap menganggur pada 2022, atau lebih tinggi dari sebelum pandemi pada 2019 yaitu 187 juta orang.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.