Perhatikan Faktor-Faktor Ini Agar Mendapatkan Emas dengan Harga Murah

Petugas menunjukkan logam mulia edisi spesial bergambar shio Kerbau Logam di Butik Emas Antam, Jakarta, Senin, 8 Februari 2021. Antam mengeluarkan logam mulia edisi spesial untuk menyambut Tahun Baru Imlek. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, JakartaEmas sebagai salah satu instrument investasi dan aset berharga memiliki fluktuasi harga yang naik turun. Karena itu, banyak masyarakat yang bingung kapan waktu yang tepat untuk membeli emas sehingga bisa mendapatkan harga yang murah.

Untuk dapat mengetahui waktu yang tepat, maka pembeli harus mengetahui terlebih dahulu faktor yang mempengaruhi harga emas. Mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh pada harga emas bisa jadi modal untuk mengenali kapan periode tepat berinvestasi emas.

Mengutip dari laman Sahabat Pegadaian, Senin 12 Juli 2021, berikut faktor yang memengarhui harga emas:

1. Besaran nilai tukar dolar AS

Harga emas cenderung naik saat dollar AS sedang melemah, begitu juga sebaliknya. Sebaiknya rajin-rajinlah membaca berita seputar perkembangan ekonomi global karena bisa berdampak pada nilai jual beli emas hari itu.

2. Ketersediaan stok emas di dunia

Stok emas secara global berpengaruh pada harga emas. Semakin sulit penambang menghasilkan emas, semakin tinggi pula harganya karena ketiadaan stok. Apalagi, emas bukan tergolong sumber daya alam terbarukan.

3. Permintaan tinggi dari sektor industri perhiasan

Emas menjadi salah satu bahan utama industri perhiasan. Jika permintaan industri akan emas ini sedang tinggi, otomatis harga emas pun ikut naik.

4. Monopoli pembelian emas oleh bank sentral dunia

Umumnya, praktik ini dilakukan oleh beberapa bank sentral dunia guna mengamankan cadangan emas mereka, seperti European Central Bank (ECB) dan Bundersbank di Jerman. Hukum ekonomi pun berlaku, harga emas naik karena stok emas langka.

5. Isu geopolitik

Isu geopolitik berdampak langsung pada harga emas. Jika ada isu yang menimbulkan sentimen positif pada pembelian emas seperti saat parlemen Inggris menolak proposal Brexit atau hubungan Amerika Serikat-Venezuela yang memanas, maka investor merespons dengan melakukan pembelian emas besar-besaran.

Selain itu, warga bisa rutin membeli emas setiap bulan atau memakai strategi membeli emas ketika harganya turun. Cara yang mudah untuk membeli emas di harga terbaik adalah dengan terus memantau pergerakan nilai tukar Dolar AS pada rupiah.

Ketika rupiah melemah dan menyentuh angka sekitar Rp14 ribu harga emas hampir dipastikan naik. Sebaliknya, saat rupiah menguat, harga emas bisa turun.

Di sisi lain, tren harga emas sepanjang tahun relatif bisa diprediksi. Ada periode saat harga emas cenderung rendah, seperti sekitar April hingga pertengahan Juni. Pada waktu tersebut, permintaan akan emas dari investor juga meningkat.

Sementara di penghujung tahun atau November hingga Desember bukanlah waktu terbaik membeli emas. Harga emas cenderung meninggi pada bulan-bulan tersebut. Namun, perkiraan ini belum tentu sama setiap tahunnya.

 

NAUFAL RIDHWAN ALY (MAGANG)

Baca juga:

Turun 4 Ribu, Harga Emas Antam Jadi Rp 946 Ribu per Gram






Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

3 jam lalu

Rupiah Jeblok ke 15.266 per Dolar AS, BI: Inflasi di Emerging Market Tak Sebesar Negara Maju

Bank Indonesia (BI) angkat bicara menanggapi jebloknya nilai tukar rupiah belakangan telah tembus ke 15.266 per dolar AS.


Ancaman Resesi, Perencana Keuangan Sarankan Masyarakat Investasi Ketimbang Menabung

3 jam lalu

Ancaman Resesi, Perencana Keuangan Sarankan Masyarakat Investasi Ketimbang Menabung

Aidil mengatakan resesi akan membuat tabungan masyarakat di bank tergerus tingginya inflasi.


Analis: Pasar Keuangan yang Gelisah Mendorong Dolar AS ke Puncak

18 jam lalu

Analis: Pasar Keuangan yang Gelisah Mendorong Dolar AS ke Puncak

Pasar keuangan yang gelisah mendorong dolar ke puncak baru dua dekade, karena kenaikan suku bunga global memicu kekhawatiran resesi.


Kian Melemah, Rupiah Diperkirakan Bakal Tembus Rp 15.400 Per Dolar AS

1 hari lalu

Kian Melemah, Rupiah Diperkirakan Bakal Tembus Rp 15.400 Per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kian tertekan pada perdagangan hari ini, Rabu, 28 September 2022.


Kompendium Bali Dorong Investasi Berkelanjutan, Bisa untuk Lawan yang Gugat RI di WTO?

1 hari lalu

Kompendium Bali Dorong Investasi Berkelanjutan, Bisa untuk Lawan yang Gugat RI di WTO?

Pertemuan tingkat menteri bidang perdagangan, investasi, dan industri di Bali pada 22-23 September 2022 menghasilkan kesepakatan baru yaitu Bali Compendium (Kompendium Bali), yang terdiri atas lima poin.


Kaesang, Youtuber Kevin Hendrawan dan Samuel Sekuritas Luncurkan Saham Rakyat Pro

1 hari lalu

Kaesang, Youtuber Kevin Hendrawan dan Samuel Sekuritas Luncurkan Saham Rakyat Pro

Kaesang Pangarep, Youtuber Kevin Hendrawan dan PT Samuel Sekuritas meluncurkan aplikasi Saham Rakyat versi pro.


Rupiah Menguat Tipis ke 15.124 per Dolar AS, Analis: Prediksi Resesi Picu Kenaikan Suku Bunga

1 hari lalu

Rupiah Menguat Tipis ke 15.124 per Dolar AS, Analis: Prediksi Resesi Picu Kenaikan Suku Bunga

Tak hanya rupiah, sejumlah mata uang lain di kawasan Asia juga ditutup menguat.


Ancaman Resesi Global, RI Dianggap Bisa Ambil Peluang Tarik Investor

1 hari lalu

Ancaman Resesi Global, RI Dianggap Bisa Ambil Peluang Tarik Investor

Apindo meminta pemerintah menciptakan kebijakan fiskal dan makro prudential yang responsif untuk menanggulangi dampak resesi global.


Bahlil Klaim Masalah Investasi Mangkrak Nyaris Selesai, Tinggal Rp 100 Triliun Belum Terealisasi

2 hari lalu

Bahlil Klaim Masalah Investasi Mangkrak Nyaris Selesai, Tinggal Rp 100 Triliun Belum Terealisasi

Bahlil sempat tak yakin dapat menyelesaikan 100 persen investasi mangkrak yang sudah dia petakan sejak menjabat pada 2019.


Bahlil Sebut dari 2.078 Izin Usaha Pertambangan yang Dicabut, 90 Sudah Dipulihkan

2 hari lalu

Bahlil Sebut dari 2.078 Izin Usaha Pertambangan yang Dicabut, 90 Sudah Dipulihkan

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengungkapkan dari 2.078 izin usaha pertambangan atau IUP yang dicabut, ada 700 perusahaan yang menyatakan keberatan.