KNKT Segera Investigasi Insiden Batik Air di Bandara Sultan Thaha Jambi

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Evakuasi penumpang pesawat Batik Air di Bandara Sultan Thaha Jambi. Pihak bandara berhasil evakuasi pesawat Batik Air meski di guyur hujan. (Antara/HO/Ist)

    Evakuasi penumpang pesawat Batik Air di Bandara Sultan Thaha Jambi. Pihak bandara berhasil evakuasi pesawat Batik Air meski di guyur hujan. (Antara/HO/Ist)

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT) segera menurunkan tim investigator untuk menyelidiki insiden terbaru yang dialami pesawat Batik Air di Bandara Sultan Thaha Jambi. Pesawat ini terpaksa mendarat kembali atau return to base (RTB) ke bandara karena adanya kendala di roda bagian depan.

    "Pasti kami akan investigasi," kata Kepala Subbagian Data, Informasi dan Humas KNKT Anggo Anugroho saat dihubungi di Jakarta, Minggu, 7 Maret 2021.

    Sebelumnya, insiden ini menimpa pesawat Batik Air dengan nomor ID-6803 pada Sabtu, 6 Maret 2921. Setelah lepas landas pukul 13.20 WIB, pilot memutuskan untuk kembali ke bandara keberangkatan.

    Penyebabnya, ada salah satu indikator menyala di ruang kokpit (yang memberitahukan atau menunjukkan) kemungkinan ada kendala teknis (technical reason). Pesawat akhirnya mendarat kembali di runway pukul 13.51 WIB.

    Tapi, pendaratan ini terekam dalam video yang tersebar di media sosial. Dalam video tersebut, tampak percikan api keluar dari ban pesawat saat mendarat. Pesawat pun baru bisa dievakuasi dari landas pacu atau runway pukul 06.20 WIB, Minggu, 7 Maret 2021.

    Kini, Batik Air menyerahkan proses investigasi atas insiden ini kepada KNKT dan Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan, serta berbagai pihak terkait.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kapal Selam 44 Tahun KRI Nanggala 402 Hilang, Negara Tetangga Ikut Mencari

    Kapal selam buatan 1977, KRI Nanggala 402, hilang kontak pada pertengahan April 2021. Tiga jam setelah Nanggala menyelam, ditemukan tumpahan minyak.