Pengetatan Kegiatan di Jawa-Bali, Saham-saham Emiten Diprediksi Rontok

Reporter:
Editor:

Martha Warta Silaban

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    Ilustrasi saham atau IHSG. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksi saham-saham emiten akan rontok setelah pemerintah mengumumkan PSBB Jawa Bali. Menurut Ibrahim, sebagian besar emiten, tak terkecuali bidang farmasi dan teknologi yang kinerjanya moncer selama pandemi, akan mengalami koreksi cukup tajam.

    “Semua saham baik farmasi, komoditas, telekomunikasi berguguran,” ujar Ibrahim saat dihubungi Tempo, Kamis, 7 Januari 2021.

    Baca Juga: Pasca Kaesang Pangarep Cuit Saham ANTM, Antam Tegaskan Tak Pakai Influencer

    Amblasnya saham emiten diikuti dengan memburuknya pergerakan indeks harga saham gabungan atau IHSG yang akan kembali ke level 5.000—setelah sebelumnya berhasil mentas ke posisi 6.000. IHSG kembali turun karena konsumsi masyarakat melemah di tengah krisis kesehatan dan ekonomi akibat wabah Covid-19.

    Menurut Ibrahim, kondisi ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor pengetatan kegiatan masyarakat dari dalam negeri. Namun, hal itu juga memperoleh dorongan dari faktor eksternal. Indonesia, kata Ibrahim, telah mengikuti sikap negara-negara global yang melakukan pembatasan aktivitas secara ketat.

    Sejak virus corona terus menyebar, beberapa negara di Eropa bahkan kembali melakukan lockdown. Kebijakan itu juga diambil oleh negara adikuasa, Amerika Serikat. Pembatasan skala besar di Eropa dan Amerika Serikat telah berpengaruh besar terhadap psikologis investor.

    “Kita tahu dana asing di Indonesia 70 persen sehingga saat saham-saham di Amerika dan Inggris jeblok, ini dampaknya juga ke Asia,” ucapnya.

    Di saat seperti ini, Ibrahim memperkirakan Bursa Efek Indonesia akan melakukan suspensi atau penghentian sementara terhadap perdagangan saham. “Ini merupakan hak BEI untuk melakukan suspend,” ujarnya. Menurut Ibrahim, seandainya tidak dihentikan sementara, banyak emiten yang akan mengalami kerugian.

    Di sisi lain, Ibrahim memproyeksikan nilai tukar rupiah akan kembali melemah ke level Rp 14 ribu per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah diperkirakan terjadi Jumat, 8 Januari 2021.“Ini kenyataan 2021 akan kembali suram seperti 2020,” katanya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Perpres Investasi Miras

    Pemerintah terbitkan perpres investasi miras, singkat dan minuman keras. Beleid itu membuka investasi industri minuman beralkohol di sejumlah daerah.