Ekonomi Tak Membaik, Sri Mulyani Sebut Libur Panjang Hanya Tambah Kasus Covid

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 4 November 2019. Rapat tersebut membahas evaluasi kinerja APBN 2019 dan rencana kerja APBN tahun anggaran 2020. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati didampingi Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) bersiap mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 4 November 2019. Rapat tersebut membahas evaluasi kinerja APBN 2019 dan rencana kerja APBN tahun anggaran 2020. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan libur panjang di kala pandemi tidak menimbulkan perbaikan kepada indikator ekonomi, tapi malah menambah jumlah kasus Covid-19. Oleh karena itu, menurut dia, pemerintah harus sangat berhati-hati melihat fenomena tersebut dan mengambil kebijakan lebih lanjut. 

    “Harus hati-hati melihatnya. Apakah dengan adanya libur panjang, masyarakat melakukan aktivitas, mobilitasnya tinggi namun tidak menimbulkan belanja dan menimbulkan tambahan kasus Covid,” ujar Sri Mulyani, di Jakarta, Senin, 23 November 2020.

    Sri Mulyani menjelaskan, per kuartal IV-2020, jumlah hari kerja lebih sedikit dibandingkan periode sama tahun lalu. Pada Oktober tahun lalu misalnya, jumlah hari kerja mencapai 23 hari. Sedangkan di bulan yang sama tahun ini hanya ada 19 hari kerja karena adanya libur panjang.

    Meski begitu, libur panjang tak berarti konsumsi listrik di sektor bisnis dan manufaktur menurun. Di sisi lain, aktivitas ekonomi pada Oktober 2020 melemah kembali karena kasus Covid-19 kembali naik.

    Oleh sebab itu, kata Sri Mulyani, pemerintah terus mengkaji seluruh aspek sebelum mengambil keputusan. "Membuat policy tidak cuma melihat pada satu sisi, harus melihat semua sisi, aspek kesehatan, ekonomi, kegiatan usaha dan lain."


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Apa itu European Super League?

    Pada 19 April 2021, sebanyak 12 mega klub sepakbola Eropa mengumumkan bahwa mereka akan membuat turnamen baru yang bernama European Super League.