Hadapi Covid-19, Luhut: Maret April, Kami Betul-Betul Panik

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan saat perkenalan Menteri Kabinet Indonesia Maju di Veranda Istana Negara, Jakarta, Rabu, 23 Oktober 2019. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan sejumlah fokus penanganan Covid-19 saat ini. Dalam paparannya, Luhut mengakui di masa awal pandemi, pihaknya sempat panik menghadapi pandemi Covid-19.

    "Memang awal-awal itu bulan Maret April, kami betul-betul panik juga, agak paniklah kalau saya bilang, karena kami enggak tahu nih bertinju dengan siapa," kata Luhut dalam kuliah umum Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang ditayangkan di akun youtube FEB UI pada Jumat malam, 18 September 2020.

    Luhut menyebut kepanikan tidak hanya di Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Tapi kemudian, sejumlah langkah penanganan dilakukan pemerintah. "Sekarang we are very confident, apalagi saya terlibat di sini (komite penanganan)," kata Luhut yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Pengendalian Covid-19.

    Saat ini, kasus Covid-19 di tanah air sudah mencapai 236.519 kasus per 18 September 2020. Tingkat kesembuhan naik menjadi 72,2 persen. Tingkat kematian turun menjadi 3,9 persen.

    Luhut menjelaskan tindakan yang pemerintah lakukan saat ini mencakup kuratif, preventif, sampai promotif. Salah satunya pada aspek kuratif di kesehatan. Pemerintah sudah menyediakan 65 laboratorium pengujian Covid-19, 2.889 rumah sakit Covid-19, dan pembangunan rumah sakit darurat.

    Jika Luhut mengaku panik, maka ahli kesehatan menyebut pemerintah gamang di awal pandemi. Ahli epidemiologi dari UI, Pandu Riono, menyebut pemerintah gamang, apakah memilih lockdown atau tidak.

    "Enggak pernah dipikirkan untuk bisa mengatasi pandemi, yang dikhawatirkan kalau ini memperburuk ekonomi," kata Pandu dalam acara Ngobrol Tempo pada Kamis, 10 September 2020.

    Kalau orang mati, kata dia, maka tidak bisa dihidupkan lagi. Tapi ekonomi tidak pernah mati, terhenti atau terlambat boleh jadi. "Kalau ekonomi mundur, nanti bisa dipulihkan," kata dia.

    Dalam acara yang sama, Luhut menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan semi alias proporsional, antara ekonomi dan Covid-19. "Terlalu keras Covid ini kita kontrol, ya matilah ekonomi" kata dia. Sebaliknya jika terlalu terbuka, ekonomi bisa naik, tapi matilah manusia.

    FAJAR PEBRIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Cuitan Penyebab Polisi Mengira Syahganda Dalang Demo UU Cipta Kerja

    Polisi menangkap Syahganda Nainggolan sebagai dalang kerusuhan UU Cipta Kerja.