Sri Mulyani Sebut Pemulihan Ekonomi Masih Cukup Rentan, Apa Sebabnya?

Reporter:
Editor:

Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. Dalam raker tersebut, Sri Mulyani dan Komisi Xi membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    Menteri Keuangan Sri Mulyani didampingi Wamenkeu Suahasil Nazara mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 26 Agustus 2020. Dalam raker tersebut, Sri Mulyani dan Komisi Xi membahas Laporan Keuangan Kementerian Keuangan pada APBN 2019. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan tinggnya ketidakpastian akibat pandemi Covid-19 saat ini, maka pemulihan ekonomi masih akan rentan. Sejumlah indikator ekonomi belakangan ini yang terlihat seperti membaik, menurut dia, harus disikapi dengan baik. 

    "Tapi ini masih sangat dini dan cukup rentan bagi kita untuk melihat pemulihan di masa mendatang," ujar Sri Mulyani dalam IDIC Webinar, Kamis, 17 September 2020.

    Sebagai contoh, PMI manufaktur pada Agustus 2020 telah mencapai ke level 50,8. Selain itu ada data google mobility index yang juga mendukung pemulihan di berbagai sektor, di antaranya transportasi, logistik, termasuk beberapa sektor keuangan.

    Begitu juga dengan banyaknya harapan produksi vaksin Covid-19. Sri Mulyani menyebutkan pemulihan ekonomi membutuhkan waktu yang lebih lama bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

    Sri Mulyani menyebutkan Indonesia pun menghadapi ketidakpastian yang sama walaupun kontraksi Indonesia pada kuartal II tahun 2020 sebesar minus 5,32 persen tidak sedalam perlambatan ekonomi negara-negara lain.

    Sebelumnya, Sri Mulyani memperkirakan ekonomi Indonesia di kuartal III tahun ini bakal terkontraksi lebih dalam dari perkiraan sebelumnya. Hal tersebut sejalan dengan penerapan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) DKI Jakarta.

    Pemerintah kini terus memantau perkembangan data yang berhubungan dengan pergerakan seiring dengan pemberlakuan PSBB jilid II di DKI Jakarta mulai tanggal 14 September 2020. Dari hitungannya, ekonomi di kuartal III tahun berpotensi akan berada pada kisaran 0,0 persen hingga -2,1 persen.

    Oleh karena itu, menurut Sri Mulyani, pemerintah akan terus menjaga agar perekonomian tidak turun terlalu dalam. Program pemulihan ekonomi nasional (PEN) akan terus didorong dan diharapkan bisa mendorong perekonomian lebih ke arah positif.

    BISNIS

    Baca: Atasi Covid-19, Sri Mulyani: Kita Sering Dihadapi Pilihan Tak Mudah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pilkada 2020, Peta Calon Kepala Daerah yang Terjangkit Covid-19

    Sejumlah kepada daerah terjangkit Covid-19 saat tahapan Pilkada 2020 berlangsung. Calon Bupati Berau bahkan meninggal akibat wabah virus corona.