Luhut Pandjaitan: RI Puluhan Tahun Dirampok Tapi Tetap Kaya

Reporter:
Editor:

Kodrat Setiawan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menggelar open house perayaan Natal di rumah dinasnya, Jakarta Selatan, Rabu, 25 Desember 2019. Open house itu tampak dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju dan politikus. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menggelar open house perayaan Natal di rumah dinasnya, Jakarta Selatan, Rabu, 25 Desember 2019. Open house itu tampak dihadiri sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju dan politikus. TEMPO/Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan mengatakan Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber daya alam. Namun, ia ingin ke depannya Tanah Air bisa mengolah sumber dayanya agar memiliki nilai tambah.

    "Kita ini super kaya. Bayangkan, kita dirampok oleh banyak orang berpuluh tahun tapi kita masih kaya saja. Sekarang jangan lah. Kekayaan itu harus ditambah lebih bagus lagi, dengan nilai tambah, dengan value added, dengan teknologi," ujar Luhut dalam konferensi video, Sabtu, 25 Juli 2020.

    Dia mengatakan ke depannya Indonesia harus terlibat dalam memberikan nilai tambah pada sumber daya alam yang dimilikinya. Ia tidak ingin Tanah Air hanya mengandalkan ekspor komoditas untuk mendapat uang. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depannya tidak ditopang komoditas, melainkan nilai tambah.

    "Hilirisasi ini sangat penting, jangan seperti selama ini menjadi pengekspor raw material. Freeport lebih dari 55 tahun itu kita ekspor saja, kita gali dan ekspor dengan tanahnya. Kita enggak tahu isinya apa saja," ujar dia.

    Sebagai contohnya, pada mineral nikel. Dia mengatakan pengolahan bijih nikel ke stainless steel slab bisa memberikan nilai tambah yang signifikan. Kemenko Marves menghitung ada peningkatan nilai ekspor hingga 10,2 kali apabila bijih nikel itu diolah menjadi stainless steel slab. Pasalnya, harga bijih nikel hanya sekitar US$ 31 per ton. Sementara, stainless steel slab bisa US$ 1.602 per ton.

    Belum lagi, kata dia, kalau nikel tersebut nantinya bisa diolah menjadi baterai lithium. Baterai lithium menjadi produk yang diperkirakan melonjak kebutuhannya pada beberapa tahun ke depan. Mengingat sejumlah negara di dunia mulai mengalihkan bahan bakar kendaraannya dari energi fosil ke yang lebih bersih seperti kendaraan listrik.

    Dia melihat Indonesia memiliki cadangan mineral yang cukup untuk bisa menjadi pemain kunci di industri baterai lithium. "Indonesia cadangan nikelnya besar," ujar dia.

    Begitu pula pada pengolahan bauksit. Dia mengatakan pengolahan bauksit menjadi alumunium ingot bisa membawa nilai tambah yang besar. Berdasarkan bahan paparannya, penambahan nilai ekspor dari bauksit menjadi alumunium ingot bisa mencapai 11,2 kali lipat, mengingat harga bauksit hanya US$ 30 per ton dan alumunium ingot US$ 1.700 per ton.

    CAESAR AKBAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kamala Harris, Senator yang Dikecam Donald Trump, Jadi Pilihan Joe Biden

    Calon Presiden AS Joe Biden memilih Senator California Kamala Harris sebagai calon wakilnya. Pilihan Biden itu mengejutkan Donald Trump.